Kata Febri 8/10
Saat menonton Dollhouse (2025) lalu membandingkannya dengan horor klasik seperti Ju-On. Pasti merasa berbeda horornya bukan karena Dollhouse “gagal”, tapi karena pendekatan horornya memang berbeda secara fundamental.Dollhouse (2025) menegaskan bahwa kengerian tidak selalu datang dari monster atau darah berlebihan. Film ini memilih jalur teror psikologis yang lambat, dingin, dan menusuk pikiran, memanfaatkan boneka sebagai simbol ketakutan purba manusia: sesuatu yang mirip manusia, tetapi tidak sepenuhnya hidup.
Kekuatan film ini ada di penggambaran waktu. Alih-alih berjalan linear, film ini sering melompat jauh ke depan, membuatnya terasa seperti terbagi menjadi babak-babak terpisah. Babak pertama dibuka dengan tragedi awal, babak kedua jadi ruang perkenalan dengan boneka, sementara babak-babak selanjutnya mengajak penonton untuk mengulik lebih dalam soal misteri di baliknya.
Meski ada beberapa jumpscare namun yang bikin saya melompat dari tempat adalah melihat kebodohan pemainnya yang diluar logika sehingga bikin gemas dan gregetan. Dari awal sih sudah aneh ketika benda terkutuk yang jelas menjadi sumber masalah tidak langsung dibuang atau dihancurkan tapi malah disimpan. Ada momen ketika anak terlihat terlalu “akrab” dengan boneka lalu mulai bicara sendiri, menirukan gerakan boneka. Respons orang dewasa: “Ah, namanya juga anak-anak.” Padahal buat yang nonton “ITU RED FLAG HOROR PALING KLASIK”. Dan yang paling gregetan adalah menjelang ending yang tidak perlu saya ceritakan.
Walaupun begitu film ini menutup endingnya dengan plot twist yang membuat film ini woth it untuk ditonton.
Sinopsis :
Setelah kehilangan putrinya, Yoshie (Masami Nagasawa) menemukan dirinya tidak mempunyai semangat hidup. Hari-harinya tak pernah kembali seperti semula. Suaminya, Tadahiko (Koji Seto), mencoba segala cara untuk membuat istrinya kembali normal tapi belum berhasil. Itu sebabnya ketika Yoshie kembali ceria seperti semula setelah membeli boneka di pasar loak, Tadahiko tidak protes sama sekali.