Kata Febri 9/10
Keren sih, merubah sudut pandang kita dalam melihat Predator meski sebenarnya bukan hal baru karena di Alien vs. Predator (2004) si Yautja sudah menjadi protagonis namun kali ini Predator itu sendiri menjadi tokoh utama.
Dek (nama si predator) berhasil membuat peduli pada Yautja yang secara tradisional dingin dan mematikan. Transformasi dari makhluk pemburu menjadi protagonis yang mencari arti keberanian sungguh mengejutkan dan menyentuh. Sementara itu, Elle Fanning tampil cemerlang sebagai Thia android yang tidak hanya berfungsi sebagai pendamping Dek, tetapi juga membawa humor, kecerdasan, dan dinamika emosional yang menyeimbangkan elemen aksi. Penampilannya berhasil menyuntikkan energi yang segar, bahkan ketika cerita memasuki momen-momen paling serius.
Salah satu aspek paling mencolok dari Badlands adalah desain dunia Badlands itu sendiri. Mulai dari lanskap yang brutal, rumpun rerumputan tajam, hingga makhluk-makhluk besar yang tak kenal ampun, semuanya hadir dengan visual yang memukau. Desain Predator dan teknologi Yautja juga mendapat perhatian serius, memadukan efek praktikal dan CGI yang terasa seimbang dan nyata.
Predator di Badlands berasal dari klan buangan, berbeda dari Predator klasik yang elit dan dominan. Film ini menunjukkan bahwa di balik topeng dan teknologi canggih, Yautja juga makhluk sosial yang keras, kejam, dan tidak selalu adil dan justru dari pinggiran inilah lahir kisah paling manusiawi dalam sejarah Predator.
Dalam Predator: Badlands, kekerasan bukan lagi sekadar tontonan, melainkan hasil dari sistem budaya. Film ini mengajak kita melihat Predator bukan sebagai monster alami, tetapi produk adat dan struktur sosial Yautja yang menuntut satu hal mutlak: berburu atau tersingkir. Di sinilah Badlands terasa paling dewasa dan relevan.
Dalam budaya Yautja, berburu bukan hobi—ia adalah ritual sakral. Sejak muda, Predator diajarkan bahwa nilai hidup diukur dari jumlah trofi, tingkat bahaya mangsa dan kemampuan membunuh tanpa ragu. Adat ini membentuk sebuah masyarakat yang keras, di mana belas kasihan dianggap cacat karakter. Predator yang ragu membunuh dipandang bukan bermoral, melainkan tidak layak hidup. Dek, protagonis Badlands, menjadi korban dari definisi kehormatan yang sempit ini.
Predator membunuh bukan karena jahat, tetapi karena tidak ada alternatif yang diakui adat dan budayanya.

Sinopsis :
Dek, seorang Predator muda yang dianggap lemah oleh komunitasnya karena menolak membunuh makhluk tak berdosa. Karena itu ia diasingkan dan bertekad membuktikan dirinya layak di mata klannya. Petualangannya membawanya ke planet berbahaya bernama Badlands, yang dipenuhi makhluk ganas yang siap menghancurkan siapa pun termasuk dirinya