Kata Febri 7/10
Jika film pertamanya sudah terasa seperti “Home Alone versi slasher berdarah”, maka The Wrath of Becky adalah upgrade penuh kebencian, lebih dewasa, lebih kejam, dan jauh lebih tidak peduli pada moral. Di film pertama, Becky masih terlihat seperti anak kecil yang bertahan hidup karena insting. Di film kedua ini, Becky adalah senjata hidup, lebih tenang, lebih licik, lebih kejam, tidak ragu mengeksekusi. Becky versi 2023 terasa seperti gabungan antara Kevin McCallister, John Wick, dan slasher villain, tapi dalam tubuh remaja perempuan mungil.
Dengan fakta tersebut tidak menjadikan film ini lebih baik dari yang pertamany, namun Wrath of Becky masih memiliki potensi melalui sosok brutal protagonisnya. Dari sisi aksi dan pemain, seri keduanya ini terasa jauh lebih halus. Pesona Lulu Wilson tidak seperti sebelumnya, kini ia justru terlihat sebagai gadis remaja yang sakit jiwa ketimbang traumatik. Potensi pengembangan kisahnya rasanya justru lebih menarik, namun apa bedanya kelak dengan seri-seri agen perempuan tangguh lainnya yang sudah jamak di pasaran. Sosok gadis kecil yang brutal ini adalah satu hal yang membuat seri ini begitu menarik dan segar.
Sekuel ini memang lebih kejam, lebih berdarah, dan lebih “berani”, namun di balik semua itu tersimpan masalah besar, film ini miskin substansi dan terlalu menikmati kekerasannya sendiri. Plot film ini nyaris tidak bisa disebut cerita. Konflik datang terlalu cepat dengan penyelesaiannya terlalu mudah. Tidak ada eskalasi emosi yang terasa alami dan semua kejadian terasa seperti “Pokoknya Becky harus bunuh orang, titik.”

Sinopsis :
Dua tahun setelah kejadian mengerikan yang menimpa Becky (Wilson), sang gadis beberapa kali kabur dari orang tua asuhnya. Ia pun bersama Diego, anjing setianya, akhirnya mendapat tempat di rumah seorang nenek tua bernama Elena (Burse) yang kesepian. Becky pun kini bekerja di sebuah kedai kopi. Suatu ketika, tiga orang laki-laki asing datang dan mengganggunya, Becky pun membalasnya. Tak terima dengan ulah Becky, tiga orang tersebut mengikuti dan mendatangi rumah Becky, lalu tak sengaja membunuh Elena. Becky pun lantas mencari mereka untuk membalaskan dendam. Siapa sangka, ketiga lelaki tersebut rupanya bagian dari komplotan radikal paling dicari di AS yang dipimpin seorang mantan militer bernama Darryl (Scott).