Kata Febri 7/10
Berkisah tentang satu pengakuan bukan sekadar soal siapa bersalah dan siapa tidak, tapi apa harga yang harus dibayar ketika kebenaran akhirnya diucapkan. Film ini mengikuti tokoh utama yang terjebak dalam pusaran masa lalu, rahasia, dan tekanan moral, ketika sebuah pengakuan lama mulai menyeret banyak orang ke dalam konsekuensi yang tak terhindarkan. Alih-alih bergerak sebagai thriller cepat, film ini memilih ritme lambat namun menghantui, membangun ketegangan lewat dialog, ekspresi, dan keheningan yang terasa berat.
Cerita berkembang melampaui sekadar misteri pembunuhan menjadi horor psikologis dan religius. Fokus utama film ini bukan hanya pada entitas supernatural, tetapi pada bagaimana dosa masa lalu orang tua dapat “menular” atau membebani anak-anak mereka.
Salah satu aspek paling menarik adalah penggunaan legenda Pied Piper (Penghalau Tikus dari Hamelin) sebagai metafora inti. Film ini menekankan konsep bahwa “hutang harus dibayar”. Jika ayahnya pernah melakukan “perjanjian” atau tindakan ekstrem untuk mengusir kegelapan, kini giliran Naomi dan putranya, Dylan, yang menghadapi konsekuensinya. Kehadiran tikus dalam film ini bukan sekadar elemen menjijikkan, melainkan tanda kembalinya sang “Piper” untuk mengambil apa yang menjadi haknya.
Meski begitu film ini terlalu banyak mencampur genre (misteri, drama keluarga, horor dan agama) sehingga terasa membingungkan di bagian akhir. Selain itu, beberapa adegan terlalu mirip dengan film horor klasik seperti The Conjuring. Dengan durasi yang cuma satu setengah jam tapi rasanya berdurasi tiga jam.

Sinopsis :
Naomi (Ricci), seorang musisi, pulang ke rumah masa kecilnya dan menemukan rekaman ayahnya yang mengaku telah melakukan pembunuhan untuk mengusir kekuatan jahat. Ketika perilaku putranya mulai berubah secara mengerikan, Naomi menyadari bahwa “utang” masa lalu tersebut kini harus ia hadapi kembali.