Review : The House (2022)

Oleh Febrian Issana

Kata Febri 7/10

The House bukan sekadar film animasi biasa, ini adalah “lukisan” surealis yang menggunakan teknik stop-motion untuk membedah ambisi, keserakahan, dan keterikatan manusia pada harta benda. Hal pertama yang akan memanjakan sekaligus mengusik mata adalah detail animasinya. Menggunakan bahan kain yang lembut, karakter di cerita pertama terlihat seperti boneka yang bisa kita sentuh, namun dengan ekspresi yang sangat minim sehingga terasa ganjil dan mencekam. Setiap frame adalah hasil kerja keras yang luar biasa, membuat penonton seolah masuk ke dalam dunia mimpi buruk yang artistik.

Secara keseluruhan, rumah dalam film ini bukan sekadar bangunan, melainkan simbol dari perangkap pikiran manusia. Kita sering kali mendefinisikan diri kita melalui apa yang kita miliki, hingga akhirnya harta benda itulah yang memiliki kita. Film ini mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam struktur bangunan, melainkan dalam kemampuan untuk melepaskan beban yang menahan kita.

The House adalah tontonan wajib bagi pecinta seni dan cerita yang tidak biasa. Meski berlabel animasi, film ini lebih ditujukan untuk penonton dewasa karena temanya yang berat dan atmosfernya yang cenderung meresahkan. Film yang menuntut kesabaran dan keterbukaan pikiran. Jika mencari animasi yang “imut” atau horor yang heboh, film ini jelas bukan untukmu. Namun jika kamu menikmati dongeng gelap, simbolisme, dan cerita yang menghantui pikiran, The House adalah pengalaman sinematik yang unik dan berani. Film ini membuktikan bahwa animasi tidak selalu untuk anak-anak, dan horor tidak selalu harus berisik.

Sinopsis :

Tiap segmen disutradarai oleh tokoh animasi independen yang berbeda

And Heard Within, A Lie Is Spun: Berlatar tahun 1800-an, mengisahkan keluarga miskin yang pindah ke rumah mewah pemberian arsitek misterius, namun berujung pada transformasi yang mengerikan.

Then Lost Is Truth That Can’t Be Won: Berlatar masa kini dengan karakter tikus antropomorfik. Seorang pengembang properti mencoba menjual rumah tersebut, namun ia terganggu oleh hama dan tamu tak diundang yang aneh.

Listen Again and Seek the Sun: Berlatar masa depan di mana dunia terendam banjir. Seorang pemilik rumah (kucing) bersikeras merenovasi rumahnya yang bobrok sementara penyewa rumahnya mendesaknya untuk merelakan masa lalu.

Anda mungkin juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda, menampilkan konten yang relevan, serta menganalisis lalu lintas situs. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie sesuai dengan kebijakan privasi kami. Accept Read More