Review : 28 Years Later: The Bone Temple (2026)

Oleh Febrian Issana

Kata Febri 7/10
Kalo hanya menonton film ini tanpa nonton dua film sebelumnya pasti merasa ini film sampah. Tapi kalo mengikuti seri filmnya dari awal, baru terasa bagus. Film ini mengambil latar beberapa bulan setelah kejadian di film pertama (2025). Fokus berpindah ke Spike (Alfie Williams) yang terperangkap dalam sebuah komunitas penyintas yang fanatik di bawah kendali Jimmy Crystal (Jack O’Connell). Di sisi lain, kita melihat Dr. Ian Kelson (Ralph Fiennes) yang mencoba membedah rahasia di balik evolusi virus “Rage” di sebuah situs pemakaman kuno yang dikenal sebagai The Bone Temple.
Film ini tidak hanya melanjutkan kisah pasca-apokaliptik yang brutal, tetapi berniat memaknai tema-tema berat seperti kemanusiaan, harapan, dan kehancuran moral dalam dunia yang telah runtuh. Fokus utama film ini tentang Spike, seorang bocah yang terjebak dalam sekte kekerasan yang dipimpin oleh Sir Jimmy Crystal. Dan tentang Dr. Ian Kelson (Ralph Fiennes), seorang dokter yang mencoba memahami dan mungkin menemukan cara untuk menenangkan atau menyembuhkan para “yang terinfeksi” ini. Plotnya bukan sekadar lari dan tertembak tapi lebih kepada perjalanan batin manusia di tengah keputusasaan, kebrutalan, dan pencarian makna. Bagi penonton awam yang mengharapkan aksi kejar-kejaran tanpa henti, paruh kedua film ini mungkin terasa sedikit membosankan. Film ini lebih banyak berfokus pada dialog dan ketegangan psikologis daripada sekadar aksi fisik.
Film ini tampil lebih artistik daripada sekadar film pelarian dari zombie. Sinematografi dan komposisi visualnya lebih puitis, menciptakan atmosfer yang menarik sekaligus mengganggu. Visual ini membuat film terasa seperti pengalaman batin yang intens — bukan hanya tontonan horor biasa. Sangat cinematic sekali.
Overall saya lebih suka yang sebelumnya dibandingkan ini, namun kalo dilihat endingnya sepertinya film ini masih memiliki potensi untuk berlanjut.

Sinopsis :
Mengikuti perjalanan Spike (Alfie Williams), seorang penyintas muda yang melarikan diri dari sisa-sisa peradaban yang hancur. Ia berakhir di sebuah benteng pegunungan terpencil yang dikuasai oleh Jimmy Crystal (Jack O’Connell), seorang pemimpin karismatik yang menjalankan tatanan masyarakat baru yang brutal dan religius.
Di tempat yang dijuluki The Bone Temple tersebut, manusia tidak lagi hanya bersembunyi dari yang terinfeksi. Di bawah bimbingan Dr. Ian Kelson (Ralph Fiennes), mereka mulai melakukan eksperimen gelap terhadap para Infected yang menunjukkan tanda-tanda intelegensi kolektif yang mengerikan. Spike harus memilih: tunduk pada hukum rimba di dalam kuil tersebut, atau menghadapi kengerian evolusi virus di luar tembok yang kini jauh lebih mematikan

Anda mungkin juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda, menampilkan konten yang relevan, serta menganalisis lalu lintas situs. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie sesuai dengan kebijakan privasi kami. Accept Read More