Kata Febri 9/10
Salah satu aspek paling menarik adalah gaya penyutradaraan Bekmambetov. Sekitar 95% film ini diceritakan melalui layar digital, kamera CCTV, dan panggilan video. Teknik ini memberikan kesan “nyata” dan mendesak, membuat seolah-olah ikut memantau layar bersama si detektif. Mengingatkan akan film Searching (2018) yang juga disutradarai oleh beliau. Kalo untuk plotnya mirip dengan Minority Report (2002) dan terasa agak bisa ditebak bagi penggemar berat fiksi ilmiah seperti saya. Meski gampang ketebak namun tetap menarik ditonton sampai habis.
Chris Pratt berperan sebagai Chris Raven, seorang detektif LAPD di tahun 2029 yang ironisnya adalah pendukung setia sistem hukum baru bernama “Mercy”. Namun, roda berputar saat Raven terbangun dan mendapati dirinya dituduh membunuh istrinya sendiri. Chris Pratt keluar dari zona nyamannya yang biasanya jenaka, Pratt tampil berantakan dan emosional sebagai pria yang di ambang kematian.
Ketegangan yabg ditampilkan sangat konsisten. Dengan duurasi film yang hampir real-time (sekitar 100 menit) membuat tidak diberi nafas. Pertanyaan moral tentang apakah kita benar-benar ingin AI menjadi penentu hidup dan mati terasa sangat relevan saat ini.
Film ini bukan sekadar thriller, tetapi sebuah pertanyaan tentang apakah kecerdasan buatan pantas menjadi hakim, juri, bahkan algojo. Sampai di mana kita boleh menyerahkan keputusan yang paling penting dalam hidup manusia kepada mesin /AI?
Data juga bukan segalanya. Film ini menggambarkan bagaimana data bisa tampak objektif, tetapi masih jauh dari kedalaman pemahaman manusia termasuk empati, konteks moral, dan intuisi. Siap-siap film ini akan menjadi nyata.

Sinopsis :
Seorang detektif bernama Chris Raven (Pratt) dituduh membunuh istrinya. Ia hanya memiliki waktu 90 menit untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah kepada seorang hakim berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Judge Maddox (Ferguson).