Kata Febri 9/10
Keren, tegang sejak awal. Film ini berhasil membangun suasana yang mirip dengan film klasik Predator. Penonton akan dibuat penasaran bagaimana sekelompok tentara dengan peralatan standar bisa mengalahkan teknologi canggih dari luar angkasa.
Jangan harapkan pertempuran yang lambat. Begitu “mesin” itu muncul, film ini berubah menjadi kejar-kejaran tanpa henti yang penuh dengan ledakan dan aksi berisiko tinggi. Efek visual robot aliennya pun terasa nyata dan mengintimidasi. Beberapa adegan bahkan terasa seperti kombinasi antara film militer dan survival thriller, di mana para karakter harus berpikir cepat untuk tetap hidup.
Bintang serial Reacher ini benar-benar menghidupkan karakter 81. Dengan fisik yang sangat meyakinkan sebagai prajurit elit, Ritchson berhasil menampilkan sosok yang kuat namun menyimpan luka emosional yang dalam.
Menariknya, konflik dalam film ini tidak berhenti pada satu mesin saja. Ketika para karakter berpikir bahwa mereka telah memenangkan pertempuran, muncul petunjuk bahwa ancaman yang sebenarnya jauh lebih besar dan berskala global.
Akhir cerita tersebut memberikan kesan bahwa War Machine bisa berkembang menjadi franchise aksi fiksi ilmiah yang lebih besar di masa depan.

Sinopsis :
Seorang tentara pendiam namun tangguh yang hanya dikenal dengan nomor kandidatnya, 81 (Alan Ritchson). Setelah kehilangan saudaranya dalam pertempuran di Afghanistan, 81 bertekad memenuhi janji terakhirnya untuk menjadi bagian dari unit elit US Army Rangers.
Namun, di tengah latihan fisik yang sangat berat di hutan Colorado, misi simulasi mereka berubah menjadi mimpi buruk yang nyata. Sebuah mesin pembunuh raksasa dari dunia lain jatuh di area operasi mereka, mengubah para kadet yang tadinya bersaing menjadi satu tim yang harus berjuang hidup-mati melawan pemangsa logam yang tak terhentikan.