KATA MEREKA: SURABAYA, Guys, Kota Pahlawan lagi panas nih, gimana enggak, Pemkot bikin gebrakan kontroversial yaitu mau nonaktifin NIK dan BPJS Kesehatan buat para penderita TBC yang ngeyel nggak mau berobat rutin. Tujuannya sih mulia, biar TBC nggak makin nyebar. Tapi, langkah ini langsung menuai kritik pedas.
Salah satu suara lantang datang dari Michael Leksodimulyo, Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya. Doi straightforward bilang, “Sebaiknya ada sosialisasi dahulu, jangan tahu-tahu langsung dipedot (diblokir) KTP-nya. Hati-hati karena ini melanggar hak asasi manusia, sebaiknya kebijakan ini dipikirkan kembali atau ditunda.” Kata dia.
Nggak cuma itu, politisi PSI ini juga nyentil soal kesiapan di akar rumput. “Bagaimana dengan PKK? bagaimana dengan KSH, bagaimana dengan RT RW, apakah mereka semua sudah tahu bahwa pasien yang tidak mau mengonsumsi obat-obatan TBC ini akan diblokir KTP-nya?” tanyanya, nunjukin kekhawatiran soal implementasi di lapangan.
Intinya, Michael berharap Pemkot nggak buru-buru main sanksi sosial. “Jangan sampai nanti sudah mau minum obat TBC lagi, tetapi untuk mengaktifkan KTP-nya ini kesulitan. Padahal untuk mendapatkan akses bantuan beras, pendidikan, itu dari KTP semua,” tegasnya.
Di sisi lain, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, punya pembelaan kuat. Menurutnya, langkah ini perlu diambil demi keselamatan warga Surabaya secara keseluruhan. “Karena itu membahayakan warga semuanya. (NIK dan BPJS) baru bisa aktif lagi ketika dia mau berobat. Lalu mau sanksi apa lagi? Kalau tidak mau berobat, kemudian menular ke warga lainnya kan jadi bahaya,” jelasnya dengan nada serius.
Eri juga menarik pelajaran dari pandemi Covid-19. “Pada waktu Covid-19 kan ada yang pakai masker sehingga tidak menularkan orang lain. Lah sekarang (TBC), sudah sakit, tidak mau diobati, malah keliling, nah itu membahayakan warga Surabaya,” imbuhnya.
Yang Perlu Kita Tahu dari TBC yang Lebih dari Sekadar Batuk Biasa
Buat kita para kaum muda yang on-the-go, penting banget buat aware sama penyakit yang satu ini. TBC, atau Tuberkulosis, disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Biasanya nyerang paru-paru, tapi bisa juga lari ke organ lain kayak kelenjar getah bening, tulang, bahkan otak.
Kenapa TBC Ini Serius?
Gejala awal TBC sering banget dianggap enteng kayak batuk biasa. Tapi, kalau batuk kalian udah lebih dari 2 minggu dan nggak sembuh-sembuh, ditambah lagi demam yang nggak tinggi-tinggi banget (meriang), sering keringetan malem padahal AC nyala, badan jadi lemes nggak berenergi, nafsu makan auto-ilang, dan berat badan turun drastis tanpa diet – wake up call, Ini bisa jadi lampu merah TBC, jangan kalian ignore.
Kabar baiknya, TBC bisa disembuhkan asalkan diobati dengan benar dan tuntas. Biasanya, dokter akan meresepkan kombinasi beberapa jenis antibiotik yang harus diminum setiap hari selama minimal 6 bulan.
Poin Penting Soal Pengobatan TBC yaitu harus rutin. Jangan bolong-bolong minum obat, meskipun udah merasa enakan. Bakterinya belum tentu mati semua.
Kemudian harus tuntas artinya ikuti semua instruksi dokter sampai selesai masa pengobatan. Kalau nggak tuntas, bakteri TBC bisa jadi kebal obat (Multi-Drug Resistant TB/MDR-TB), dan pengobatannya jadi jauh lebih susah dan lama.
Kabar baiknya lagi, pengobatan TBC di Indonesia umumnya ditanggung pemerintah alias gratis di puskesmas dan rumah sakit. Manfaatkan fasilitas ini.
Balik Lagi ke Surabaya, Kebijakan Pemkot ini memang menimbulkan perdebatan sengit. Di satu sisi, ada urgensi untuk melindungi kesehatan publik. Di sisi lain, ada kekhawatiran soal hak asasi dan dampak sosial. Semoga ada solusi yang bijak dan efektif, yang nggak cuma menekan angka TBC tapi juga tetap menghargai hak setiap warga Surabaya. Stay tuned buat update selanjutnya ya.