“Emas Berjalan” dari Bulak Pepe, Kisah Manusia dan Kerbau di Tengah Hutan Ngawi

Oleh Didit

KATAMEREKA: NGAWI, Di sebuah sudut Kabupaten Ngawi, tersembunyi sebuah kampung unik bernama Dusun Bulak Pepe. Bukan pemukiman biasa, sebab di sini, populasi kerbau justru jauh melampaui jumlah manusianya. Bayangkan, dari 100 warga, setiap kepala keluarga bisa memiliki 10 hingga 35 ekor kerbau! Tak heran jika Bulak Pepe dijuluki “Kampung Kerbau”, tempat di mana ratusan “emas berjalan” menjadi denyut nadi kehidupan.

Sejak zaman dahulu kala, memelihara kerbau sudah menjadi tradisi turun-temurun bagi warga Bulak Pepe. Bagi mereka, kerbau bukan sekadar hewan ternak, melainkan investasi yang menggiurkan dan harta paling berharga. Bahkan, warga Bulak Pepe lebih memilih memelihara kerbau daripada menyimpan uang di bank. Alasan utamanya sederhana karena kerbau dinilai mendatangkan keuntungan berlipat ganda, dan perkembangbiakannya pun relatif cepat. yakni paling cepat 13 bulan, kerbau pasti beranak.

Cara beternak di Bulak Pepe masih sangat tradisional. Setiap pagi dan siang, kerbau-kerbau ini digembalakan di tengah hutan dan ladang yang melimpah sumber pakan. Sore harinya, mereka akan digiring menuju sungai besar di muka dusun untuk minum sekaligus berendam.

Pemandangan ratusan kerbau yang beriringan menuju sungai ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri di Bulak Pepe.

Yang menarik, meskipun jumlah kerbau sangat banyak, Dusun Bulak Pepe tidak lantas berbau tak sedap. Sejak tahun 2016, masyarakat mulai menerapkan sistem kandang komunal. Kandang-kandang berukuran 6 x 9 meter yang terbuat dari papan kayu ini menampung kerbau-kerbau milik banyak warga dan terletak di pinggiran kampung, jauh dari permukiman. Jerami kering pun disediakan sebagai pakan cadangan. Sistem ini bukan hanya menjaga kebersihan, tapi juga menunjukkan kesadaran warga akan pentingnya kesehatan lingkungan.

Warga Bulak Pepe mengakui bahwa memelihara kerbau jauh lebih mudah dibanding sapi. Kerbau tak perlu pusing soal pakan khusus; cukup dilepas di alam, mereka akan mencari makan sendiri. Selain itu, kerbau juga dikenal tidak mudah terserang penyakit dan kandangnya pun gampang dibersihkan. Keunggulan lainnya, daging kerbau dinilai lebih banyak dari sapi.

Bagi warga Bulak Pepe, beternak kerbau lebih dari sekadar mencari nafkah. Ini adalah bagian dari pelestarian tradisi nenek moyang. Ada kearifan lokal yang kuat di sana, bahkan dalam hal penjualan. Berbeda dari peternak pada umumnya yang memasarkan ternak di pasar hewan, peternak di Bulak Pepe hanya menghubungi penjual ternak secara langsung. Pasalnya menurut warga lokal kebiasaan tidak menjual kerbau di pasar adalah tradisi leluhur mereka.

Uniknya lagi, setiap kerbau di Bulak Pepe seperti punya GPS alami. Mereka tak pernah salah pulang ke kandangnya masing-masing, bahkan saat akan dimandikan, kerbau-kerbau ini sudah hafal jalan menuju sungai tanpa perlu diinstruksi. Ini membuktikan kedekatan dan ikatan batin yang terjalin antara manusia dan kerbau di Bulak Pepe. Bahkan, sebagian masyarakat memanfaatkan jasa titip kerbau dengan biaya Rp50.000 per ekor setiap bulannya, menunjukkan betapa berharganya kerbau-kerbau ini.

Dusun Bulak Pepe adalah contoh nyata bagaimana tradisi, ekonomi, dan sosial dapat berpadu harmonis. Di tengah hiruk pikuk modernisasi, “Kampung Kerbau” ini tetap setia pada warisan leluhur mereka, membuktikan bahwa “emas” tak selalu berbentuk uang, melainkan bisa juga berbentuk kerbau yang hidup berdampingan dengan manusia.

Bagaimana menurut Anda, apakah ada tradisi unik lainnya yang juga menjadi tulang punggung ekonomi suatu masyarakat?

 

 

Anda mungkin juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda, menampilkan konten yang relevan, serta menganalisis lalu lintas situs. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie sesuai dengan kebijakan privasi kami. Accept Read More