MPLS Surabaya Ajak Siswa Jadi Mentor, Cegah Bullying demi Mental Juara

Oleh Didit

KATAMEREKA: SURABAYA, Hari ini, Senin, 14 Juli 2025, gaung ceria Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) serentak dimulai di seluruh penjuru Kota Pahlawan. Tapi, di balik antusiasme awal ini, ada pesan penting dari Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya yang patut digarisbawahi tebal yaitu JANGAN ADA BULLYING.

Yusuf Masruh, Kepala Dispendik Kota Surabaya, menegaskan bahwa MPLS di jenjang SD hingga SMP harus jadi ajang yang ramah dan menggembirakan. Bukan hanya sekadar perkenalan, tapi momentum di mana para kakak kelas berperan sebagai mentor, bukan momok. Filosofi “Sekolahku Rumahku, Orang Tuaku Guruku” yang digaungkan Dispendik jadi pondasi utama. Ini bukan cuma jargon, tapi upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan suportif dari hari pertama.

Larangan keras terhadap bullying dan kekerasan selama MPLS, bahkan hingga seterusnya, adalah bentuk komitmen Dispendik Surabaya. Yusuf Masruh menyoroti peran sentral kakak kelas: mereka bukan untuk menindas, melainkan untuk membimbing dan mengarahkan. Bayangkan, kakak kelas yang dengan sabar menjelaskan, “Oh, Dik, nanti kalau di kelas 7 itu bidang studinya ada 14, nanti tiap gurunya ganti, jadwalnya juga enggak mesti kayak SD kan tetap saja.” Atau, “Nanti ada ekstrakurikuler yang seru-seru lho, mau ikut yang mana?” Ini adalah contoh konkret bagaimana kakak kelas bisa menjadi jembatan bagi adik-adiknya beradaptasi, bukan dinding yang menghalangi.

Dari sudut pandang psikologi anak, pengalaman awal di sekolah sangat krusial. Sebuah MPLS yang positif dapat membangun fondasi kepercayaan diri dan rasa aman pada siswa baru. Sebaliknya, bullying, sekecil apa pun, bisa meninggalkan luka mendalam yang berdampak pada kesehatan mental dan prestasi akademik seorang anak. Anak yang menjadi korban bullying cenderung mengalami kecemasan, depresi, penurunan motivasi belajar, hingga enggan ke sekolah. Inilah mengapa pengawasan ketat dari guru sangat penting. Kakak kelas boleh menjadi mentor, tapi harus tetap di bawah kendali dan bimbingan guru. Dispendik memastikan semua pengawas turun ke lapangan untuk memonitor langsung jalannya MPLS di setiap sekolah di Surabaya.

Penting untuk diingat bahwa isu bullying bukanlah masalah baru. Kota Surabaya sendiri tidak luput dari kasus-kasus bullying di sekolah. Pada tahun 2024 lalu, misalnya, terdapat beberapa laporan kasus bullying yang cukup menyita perhatian publik. Salah satunya melibatkan siswa di salah satu SMP di Surabaya Barat, di mana korban mengalami perundungan verbal dan fisik dari beberapa teman sekelasnya. Kasus ini mencuat setelah video kejadian tersebar di media sosial, memicu keprihatinan luas dan desakan agar pihak sekolah serta dinas terkait mengambil tindakan tegas.

Kejadian semacam ini menjadi pengingat pahit akan urgensi penanganan bullying yang serius dan berkelanjutan. Ini bukan hanya tentang hukuman bagi pelaku, tapi juga tentang pendidikan karakter, empati, dan pembentukan lingkungan sekolah yang inklusif.

Inisiatif Dispendik Surabaya tahun ini, dengan penekanan pada MPLS yang ramah dan bebas bullying, adalah langkah maju yang patut diapresiasi. Mari kita berharap, dengan pengawasan ketat dan kesadaran bersama, MPLS 2025 ini benar-benar menjadi awal yang manis bagi ribuan siswa baru di Kota Pahlawan. Mari ciptakan sekolah yang bukan hanya tempat belajar, tapi juga rumah kedua yang aman dan penuh kasih bagi setiap anak.

Anda mungkin juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda, menampilkan konten yang relevan, serta menganalisis lalu lintas situs. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie sesuai dengan kebijakan privasi kami. Accept Read More