KATAMEREKA: SURABAYA – Kota Pahlawan tak main-main dalam perangnya melawan TBC. Alih-alih mengandalkan pendekatan medis semata, Pemerintah Kota Surabaya justru melancarkan strategi kolaboratif berbasis komunitas yang masif untuk membasmi penyakit yang masih jadi momok kesehatan global ini.
Ini bukan sekadar kampanye, melainkan gerakan kolektif. Dipimpin langsung oleh Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, ribuan warga, mulai dari kader kesehatan, relawan, hingga pengurus RT dan RW, bahu-membahu dalam agenda “Merdeka TBC” yang serentak digelar di 1.361 RW, dengan target zero TBC di tahun 2030.
Wali Kota Eri Cahyadi menegaskan bahwa eliminasi TBC bukan cuma urusan pemerintah. “Penanggulangan TBC tak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah,” tegasnya. “Peran serta seluruh masyarakat, khususnya para Kader Surabaya Hebat serta pengurus RT dan RW, sangat penting dalam mengedukasi dan mendampingi warga.”
Untuk mewujudkan mimpi nol kasus, Pemkot Surabaya mengerahkan kekuatan penuh, 27.000 Kader Surabaya Hebat (KSH) diterjunkan ke setiap RT dengan satu misi utama yakni mendampingi minimal 20 rumah. Jika ada kasus positif, Satuan Tugas (Satgas) TBC akan turun tangan. Bahkan, Satgas ini juga bertugas memastikan pasien mengonsumsi obat secara rutin.
Tantangan terbesar dalam perang ini bukanlah sekadar obat-obatan, melainkan stigma negatif yang kerap membuat penderita enggan berobat. Banyak kasus dari luar wilayah tercatat di Surabaya, dan mobilitas penduduk yang tinggi juga menjadi kendala. Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Nanik Sukristina, menyebutkan bahwa stigma ini harus dipatahkan.
“Kami melakukan skrining masif, pengobatan gratis, dan pendampingan minum obat untuk pasien,” kata Nanik. Upaya ini diperkuat dengan pelatihan 27.000 kader dengan 25 kompetensi kesehatan, termasuk TBC.
Wali Kota Eri berpesan, masyarakat harus berani jujur akan kondisinya dan tidak lagi menolak pengobatan. Ia juga mengingatkan agar tidak ada lagi perlakuan diskriminatif terhadap pasien TBC.
“Jangan menghakimi, tapi ingatkan dan kuatkan,” ujarnya. “Jika ada yang batuk, sarankan untuk pakai masker dan periksa ke puskesmas.”
Ini bukan lagi soal penyakit individu, melainkan kesehatan nasional. Dengan pendekatan holistik yang melibatkan berbagai pihak mulai dari pemerintah, swasta, akademisi dari 13 universitas, hingga media di Surabaya menunjukkan komitmennya untuk tidak hanya mengobati, tetapi juga mengedukasi dan memberdayakan masyarakatnya. Gerakan ini menjadi cerminan nyata bahwa kesehatan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya milik satu pihak.