Patung Macan Putih Kediri, Ikon yang Mengubah Desa Sepi Jadi Sentra Wisata Lokal

Oleh Didit

KATAMEREKA: KEDIRI, Dari bahan olok-olok warganet, Patung Macan Putih di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, justru berbalik arah menjadi berkah. Ikon yang sempat dihujat karena bentuknya kini menjelma magnet wisata baru, menggerakkan roda ekonomi desa, sekaligus mengangkat martabat warga setempat.

Desa yang dulu cenderung sepi, kini hidup hampir sepanjang hari. Warga berdatangan, kamera ponsel tak henti mengabadikan sudut patung, sementara lapak-lapak UMKM tumbuh di sekitarnya. Patung Macan Putih tak lagi sekadar ornamen, tetapi menjadi denyut baru aktivitas ekonomi dan sosial desa.

Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, mengakui perubahan itu terasa nyata. Menurutnya, kehadiran patung membawa manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya pedagang kecil yang kini mendapat ruang penghidupan baru. Ia menyebut kondisi desa saat ini sangat berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, bahkan di luar perkiraan pemerintah desa sendiri.

Dampak ekonomi lokal terlihat jelas dari kreativitas warga. Beragam produk UMKM bermunculan dengan menjadikan Macan Putih sebagai ikon. Mulai dari gantungan kunci, kaos sablon, mainan anak, hingga balon, semuanya laris diburu pengunjung. Tak hanya warga Balongjeruk, pedagang dari desa sekitar pun ikut merasakan efek domino dari ramainya kawasan tersebut.

Tanpa konsep besar sejak awal, berbagai kegiatan sosial mulai tumbuh dari inisiatif warga. Dalam waktu dekat, kawasan Patung Macan Putih akan diisi senam bersama setiap Minggu pagi, serta rencana lomba melukis untuk anak-anak TK. Pemerintah desa juga membuka peluang penerapan Car Free Day (CFD) jika antusiasme masyarakat terus meningkat.

Patung Macan Putih di Desa Balongjeruk yang angkat ekonomi lokal

Pengelolaan sementara masih melibatkan warga RT setempat, mengingat lokasi patung berada di wilayah tersebut. Namun, semangat gotong royong mulai terasa, seiring kawasan ini berkembang menjadi ruang publik baru bagi masyarakat.

Safi’i menegaskan, polemik yang sempat muncul telah diselesaikan melalui musyawarah desa. Pemerintah desa memilih meredam kegaduhan dan menyerahkan keputusan kepada warga. Hasilnya, Patung Macan Putih disepakati untuk dilestarikan sebagai identitas desa.

Menariknya, setelah viral, patung ini justru dilirik pihak luar. Sejumlah seniman dan kolektor dari Bali, Yogyakarta, hingga Mojokerto disebut sempat menawar dengan nilai fantastis. Namun, Pemerintah Desa Balongjeruk bergeming. Patung tersebut dipilih untuk tetap tinggal, menjadi simbol kebangkitan desa.

Popularitas Patung Macan Putih bahkan menembus luar negeri. Safi’i menyebut ikon desanya telah diberitakan media Malaysia, serta menarik perhatian warga Australia dan Singapura. Bagi warga Balongjeruk, ini bukan sekadar soal viral, melainkan bukti bahwa kearifan lokal yang dirawat bersama mampu menjadi kekuatan ekonomi dan wisata daerah.

Dari cemoohan menjadi kebanggaan, Patung Macan Putih kini berdiri sebagai saksi bahwa sesuatu yang sempat diremehkan, jika dikelola dengan kebersamaan, justru bisa mengangkat nama dan martabat desa.

Anda mungkin juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda, menampilkan konten yang relevan, serta menganalisis lalu lintas situs. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie sesuai dengan kebijakan privasi kami. Accept Read More