Tak Terlihat di Peta Bantuan, Kampung Laduh Menyimpan Luka Pasca Banjir Aceh Tamiang

Oleh Didit

KATAMEREKA: Aceh Tamiang, Banjir bandang memang sudah surut di sebagian wilayah Aceh Tamiang. Air perlahan turun, lumpur mulai mengering. Tapi bagi warga Kampung Laduh, Kecamatan Rantau, bencana belum benar-benar selesai. Di kampung ini, yang hilang bukan hanya rumah, tapi juga perhatian.

Kampung Laduh nyaris tak muncul dalam peta bantuan. Letaknya tak persis di bantaran sungai besar, tak berada di jalur utama, dan tak mudah terlihat dari jalan raya. Selama beberapa hari, bantuan menumpuk di wilayah yang mudah dijangkau. Sementara Kampung Laduh bertahan sendiri, dalam sunyi.

Keberadaan kampung ini baru terungkap setelah tim kemanusiaan U Save Children (USC) bersama Temanandalan.com mendengar cerita dari seorang tenaga kesehatan. Ia bukan sekadar saksi, tapi juga korban. Rumahnya hancur tersapu banjir, bersama puluhan rumah lain di desanya.

Ketua U Save Children, Hamida Soetadji, menyebut temuan di Kampung Laduh sebagai potret “wilayah yang tak terlihat”. Dari hasil pemetaan lapangan, hampir 90 persen rumah warga hilang. Bukan rusak ringan, melainkan lenyap terbawa arus. Warga kini tinggal di tenda pengungsian atau membangun bedak seadanya dari sisa kayu dan terpal.

“Banjir bukan hanya soal air yang datang, tapi juga soal siapa yang tertinggal setelahnya,” kata Hamida.

Sebelumnya, pada Senin (12/1/2026), USC telah menyalurkan 250 paket perlengkapan mandi dan pakaian dalam untuk anak-anak usia 1 hingga 6 tahun. Bantuan itu ditujukan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan anak-anak di pengungsian, yang rentan terkena penyakit kulit dan infeksi pasca banjir.

 

Namun di Kampung Laduh, persoalan lebih panjang dari sekadar logistik. Pendidikan ikut terdampak. Sekolah masih berjalan, tapi bukan di ruang kelas. Anak-anak belajar di bawah tenda darurat, duduk beralas tanah, dengan papan tulis seadanya.

Pendataan awal mencatat sekitar 450 siswa SDN 2 Kota Kuala Simpang, 50 anak PAUD Petuah Bangsa, dan 15 anak TK kini mengikuti kegiatan belajar mengajar di tenda. Tim USC tengah memverifikasi data agar bantuan pendidikan bisa disalurkan tepat sasaran.

Di tengah kondisi serba terbatas, anak-anak tetap datang ke sekolah darurat. Seragam mereka lusuh, buku pelajaran sebagian hilang, tapi keinginan untuk belajar masih ada. Di sanalah harapan kecil itu bertahan.

Hari ini, Selasa (13/1), tim memfokuskan diri pada pemetaan lanjutan dan pengumpulan data anak-anak terdampak. Pembelanjaan kebutuhan logistik berikutnya dijadwalkan pada Rabu (14/1/2026), menyesuaikan kebutuhan riil di lapangan.

Dalam laporan keuangan terbuka, USC mencatat total dana donasi yang telah digunakan sejak 7 Januari 2026 mencapai Rp9.775.000.

USC mengajak publik untuk terus membuka mata dan hati. Karena pascabencana, selalu ada wilayah yang tak bersuara keras, tapi menanggung dampak paling dalam. Kampung Laduh adalah salah satunya.

Anda mungkin juga menyukai

Tinggalkan Komentar

POWERED BY

Kata mereka Media interaktif citizen journalism

sebagai cover bothside dalam perubahan

ekonomi politik bisnis lebih baik bersama

komunitas.

Community :

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda, menampilkan konten yang relevan, serta menganalisis lalu lintas situs. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie sesuai dengan kebijakan privasi kami. Accept Read More