138 Titik Rawan Banjir Masih Membayangi, Drainase Surabaya Dievaluasi Total

Pembangunan drainase di kawasan Menanggal Surabaya (Dok. Diskominfo Surabaya)

Oleh Didit

Pembangunan Drainase di daerah Menanggal Surabaya (Dok. Diskominfo Surabaya)

KATAMEREKA: Surabaya, Bagi Adi Gunita, hujan bukan sekadar fenomena cuaca. Setiap tetes air yang jatuh ke Kota Surabaya adalah ujian bagi sistem drainase yang selama puluhan tahun menopang aktivitas kota metropolitan ini. Menjelang puncak curah hujan ekstrem pada Februari 2026, Kepala Bidang Drainase Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya itu menegaskan bahwa kesiapan infrastruktur menjadi kunci utama menghadapi risiko banjir perkotaan.

Hingga kini, Surabaya masih dihadapkan pada sekitar 138 titik rawan banjir yang tersebar di berbagai kawasan urban. Meski jumlah tersebut berhasil ditekan signifikan dibandingkan tahun 2021 yang mencapai sekitar 220 titik, persoalan genangan belum sepenuhnya tuntas. Perubahan pola hujan yang kian ekstrem membuat sistem drainase lama harus dievaluasi dan disesuaikan.

Adi Gunita menjelaskan, sejumlah saluran drainase yang sebelumnya dirancang dengan kapasitas tertentu kini tidak lagi memadai untuk menampung intensitas hujan yang semakin tinggi. Volume air yang besar dan durasi hujan yang lebih panjang menuntut pendekatan baru dalam perencanaan dan pengelolaan drainase kota.

Merespons kondisi tersebut, Pemkot Surabaya menyiapkan langkah adaptif melalui intervensi terhadap 12 sistem drainase dari total 30 sistem utama sepanjang tahun 2026. Upaya ini meliputi peningkatan kapasitas saluran, pembesaran dimensi drainase, hingga optimalisasi long storage sebagai tampungan air sementara yang dinilai semakin krusial dalam pengendalian banjir.

Di sisi lain, Kepala DSDABM Surabaya Hidayat Syah menyampaikan bahwa penguatan sistem pompanisasi juga menjadi bagian dari strategi besar mitigasi banjir. Pemkot berencana membangun lima rumah pompa baru yang akan menambah jumlah total rumah pompa di Surabaya dari sebelumnya 85 unit. Pembangunan tersebut difokuskan di kawasan-kawasan strategis seperti Semolowaru, Nginden, serta wilayah utara Surabaya di sekitar Teluk Betung, Jalan Teluk Kumai. Proses lelang ditargetkan berlangsung pada Februari hingga Maret 2026.

Selain pembangunan infrastruktur baru, kegiatan operasi dan pemeliharaan terus digenjot menjelang puncak musim hujan. Normalisasi saluran dilakukan secara masif melalui pengerukan sedimentasi yang berpotensi menghambat aliran air. Kawasan Simo Kalangan menjadi salah satu titik prioritas karena memiliki tingkat sedimentasi yang cukup tinggi.

Upaya tersebut tidak hanya melibatkan alat berat, tetapi juga tenaga Satgas di tingkat kecamatan. Satgas diterjunkan langsung untuk menangani selokan dan saluran di lingkungan permukiman warga agar tetap berfungsi optimal saat hujan deras mengguyur kota.

Dalam pengendalian genangan, DSDABM Surabaya menggunakan tiga parameter utama sebagai acuan, yakni tinggi genangan, lama genangan, dan luas genangan. Pendekatan ini diarahkan agar dampak banjir dapat ditekan seminimal mungkin sehingga tidak mengganggu aktivitas masyarakat secara luas.

Meski perencanaan telah disusun berdasarkan analisis hidrologi jangka panjang, pemerintah kota mengakui bahwa ketidakpastian cuaca akibat perubahan iklim tetap menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, selain memastikan kesiapan sarana dan prasarana, edukasi kepada masyarakat dinilai sama pentingnya, terutama terkait pengelolaan sampah.

Menurut Adi Gunita, penyumbatan saluran akibat sampah masih menjadi faktor dominan penyebab genangan di banyak titik. Oleh sebab itu, penguatan infrastruktur harus berjalan seiring dengan perubahan perilaku warga agar sistem drainase kota dapat bekerja secara optimal menghadapi musim hujan ekstrem.

Anda mungkin juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda, menampilkan konten yang relevan, serta menganalisis lalu lintas situs. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie sesuai dengan kebijakan privasi kami. Accept Read More