KATAMEREKA: MALANG, Taman Krida Budaya pada Minggu malam (13/7/2025) lalu bukan sekadar panggung. Ia seakan menjadi kanvas raksasa tempat identitas budaya direkonstruksi, di mana Topeng Panji Mangu, sebuah pentas tari kolosal, tak hanya menggetarkan jiwa ratusan penonton, tetapi juga membuktikan satu hal bahwa seni tradisional sama sekali tak ditinggalkan generasi muda. Justru, ia menemukan denyut nadi baru di tangan mereka.
Diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur, pertunjukan megah ini adalah manuver cerdas dalam mempopulerkan kembali kesenian Panji Malangan, khususnya di kalangan Gen Z yang kerap dicap apatis terhadap warisan leluhur. Empat puluh penari dari berbagai sanggar di Malang Raya, dengan gemulai dan kekuatan gerak, mengubah skeptisisme menjadi decak kagum.

“Topeng Malangan diupayakan agar kembali dekat dengan anak muda. Jika tidak dimulai dari sekarang, kita akan kehilangan makna dari setiap gerak dan cerita yang telah hidup berabad-abad,” tegas Dimas Bagus Atmananto, penanggung jawab acara. Kata-katanya bukan retorika kosong. Disbudpar Jatim kali ini berani melangkah di luar zona nyaman, menolak pendekatan konservatif. Mereka tak lagi memandang Gen Z sebagai penonton pasif, melainkan sebagai punggawa masa depan seni tradisi.
Evy Afianasari, Kepala Disbudpar Jawa Timur, dengan senyum optimistis, menambahkan, “Generasi Z memiliki peran strategis ke depan. Kita harus membuat mereka merasa relevan dengan cerita-cerita seperti Panji.” Kolaborasi lintas generasi antara seniman senior dan kreator muda adalah kunci. Hasilnya? Kemasan artistik yang segar, membuat Topeng Panji bukan lagi tontonan museum, melainkan ruang dialog interaktif antara masa lalu dan masa kini.
Siapa sangka, cerita Panji tak hanya bergaung di Malang. Sejak 2017, UNESCO telah mengakui Cerita Panji sebagai bagian dari Memory of the World, membuktikan relevansinya yang melampaui batas geografis, merentang hingga ke seluruh Asia Tenggara. “Cerita Panji bukan hanya milik Malang atau Jawa Timur, tapi milik kita semua di Asia Tenggara. Maka pendekatannya harus berskala luas, namun tetap berakar lokal,” jelas Mohammad Yasin, Kepala Bappeda Jatim.

Yasin tak ragu menyebut bahwa kegiatan seni semacam ini bukan sekadar pertunjukan semalam suntuk. Ini adalah pilar strategi pembangunan daerah berbasis budaya. Ia mendorong pengelolaan seni tradisi yang profesional, dari kemasan memukau, promosi gencar, hingga aksesibilitas digital yang tak terbatasi. “Topeng Panji Mangu malam itu bukan hanya pertunjukan tari. Ia adalah panggung rekonstruksi identitas,” imbuhnya, menegaskan bahwa budaya itu dekat dan dinamis, bukan “jauh dan tua.”
Durasi satu jam yang penuh makna itu bukan kebetulan. Setiap gerak, setiap adegan, dirancang untuk menyampaikan estetika sekaligus filosofi Panji yang relevan dengan realitas masa kini: perjuangan, kasih sayang, dan identitas diri. Disbudpar Jatim bersama para seniman kini terus mengolah ide, mengembangkan konsep pertunjukan inovatif tanpa sedikit pun mengikis kekayaan cerita Panji. Panggung telah tergelar, dan Topeng Panji siap menari di hati setiap generasi, selamanya.