KATAMEREKA: SIDOARJO, Sebuah kisah penuh ketegangan dan kelegaan akhirnya menemukan titik terang. Setelah menghilang selama berhari-hari, Kusnadi (67), sosok yang tak asing di kancah politik Jawa Timur sebagai mantan Ketua DPRD periode 2019-2024, ditemukan di Tanah Merah, Bangkalan, Madura. Kabar ini bukan hanya menumbuhkan harapan, tetapi juga menyisakan tanda tanya besar tentang apa yang sebenarnya terjadi pada pria paruh baya ini.
Kabar hilangnya Kusnadi yang beralamat di Pondok Sedati Asri, Sidoarjo, sempat membuat geger dan menyelimuti keluarganya dengan kecemasan mendalam. Laporan kehilangan pun telah dilayangkan ke Polsek Balongbendo Sidoarjo pada Minggu (8/7/2025). Terhitung sejak 6 Juni 2025, jejak Kusnadi seolah lenyap ditelan bumi, meninggalkan kerabat dan kolega dalam kegelisahan.
Keajaiban itu datang dari kekuatan media sosial dan kebaikan hati sesama. Teddy Kusdita Kunong, putra kedua Kusnadi, tak henti-hentinya menyebar foto sang ayah di Facebook lengkap dengan nomor kontaknya. Harapan itu terjawab pada Senin (9/6/2025) dini hari, sekitar pukul 01.00.
“Bapak ditemukan orang di kawasan Tanah Merah Madura, Orang itu melihat foto bapak yang viral hilang di FB,” cerita Teddy dengan nada lega bercampur haru. Orang tak dikenal itu, melihat Kusnadi tergeletak di jalanan, segera mengirimkan fotonya kepada Teddy.
Momen haru terjadi ketika Teddy melakukan panggilan video. “Bapak saya tanya dari mana saja, bapak saya seperti orang linglung. Beliau bingung tiba-tiba kok ada di Madura, padahal rumah di Sidoarjo,” tutur Teddy, menggambarkan kondisi ayahnya yang tampak kebingungan dan tidak ingat bagaimana bisa berada di Madura.
Tanpa pikir panjang, begitu lokasi penemuan dibagikan, Teddy langsung tancap gas menuju Tanah Merah, Bangkalan, untuk menjemput sang ayah yang sangat dicintai.
Kisah hilangnya Kusnadi ini semakin menarik perhatian karena terjadi tak lama setelah ia menjalani pemeriksaan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pada Rabu (14/5/2025), Kusnadi diketahui terakhir kali diperiksa KPK di Polresta Banyuwangi, bersama dua saksi lain: Sumatri, seorang petani, dan Teguh Pambudi, seorang notaris.
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, kala itu membenarkan pemeriksaan terhadap “K, karyawan swasta, S selaku petani, dan TB notaris PPAT” di Banyuwangi. Tak hanya itu, KPK juga memeriksa dua pihak swasta lainnya, Jodi Pradana Putra dan Bagus Wahyudyono, di Kantor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Sidoarjo.
Pertanyaan besar kini membayangi adalah apakah ada kaitan antara pemeriksaan KPK dan kondisi linglung yang dialami Kusnadi pasca-ditemukan? Apakah ada tekanan mental atau peristiwa lain yang mungkin memicu disorientasi pada dirinya? Keluarga dan publik tentu berharap ada penjelasan lebih lanjut yang bisa mengurai benang kusut di balik hilangnya Kusnadi.