RIAS Surabaya, Ketika Kota Pahlawan Merangkul Asa Anak-anak yang “Tersesat”

Oleh Didit

KATAMEREKA: SURABAYA Di tengah riuhnya denyut metropolitan Kota Pahlawan, ada kisah-kisah kecil yang kerap luput dari perhatian, namun menyimpan kekhawatiran besar. Bukan sekadar kenakalan biasa, melainkan jeritan hati anak-anak yang terjerat dalam lingkaran begadang, kecanduan game, atau bahkan bolos sekolah. Kalian mungkin pernah melihatnya, anak-anak yang tatapannya kosong, seolah kehilangan arah di tengah gemerlap kota. Ini bukan cuma PR orang tua, tapi juga tantangan buat kita semua, khususnya buat Pemkot Surabaya yang punya tanggung jawab besar.

Namun, di tengah tantangan itu, muncullah secercah harapan yakni Rumah Ilmu Arek Suroboyo (RIAS). Sebuah inisiatif yang bukan sekadar bangunan fisik, melainkan sebuah pelukan hangat dari kota untuk anak-anaknya yang sedang kesulitan. Bayangkan, sebuah tempat di mana mereka bisa menemukan kembali diri mereka, belajar lagi, dan merasakan kasih sayang yang mungkin selama ini mereka rindukan.

Menurut M. Isa Ansori, pengurus Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur yang juga jeli melihat kebijakan sosial, masalah ini adalah ujian bagi negara untuk memastikan setiap anak punya hak tumbuh kembang yang optimal. “Inisiatif proaktif itu penting banget, biar anak-anak ini bisa tumbuh di lingkungan yang positif dan terlindungi dari segala macam risiko sosial,” kata Isa.

RIAS ini, lanjut Isa, punya konsep yang keren banget. Nggak cuma berdiri sendiri, tapi terintegrasi sama Kampung Anak Negeri dan Asrama Bibit Unggul. Jadi, di sini anak-anak yang lagi bermasalah itu nggak cuma ditampung, tapi bener-bener dibimbing. Ada pendampingan sosial, diajarin karakter, dikasih keterampilan hidup, bahkan sampai terapi psikososial intensif. “Ini bukan cuma tempat nginep sementara. Ini model penanganan terpadu yang dirancang buat ngebentuk lagi karakter dan masa depan mereka,” jelas Isa dengan antusias.

Tapi, Isa juga wanti-wanti, RIAS ini harus dioptimalkan. Artinya, Pemkot Surabaya, bareng-bareng sama RT, RW, Kader Surabaya Hebat (KSH), dan tokoh masyarakat, harus aktif blusukan, nyari anak-anak yang butuh perhatian khusus sampai ke pelosok kota. Ibaratnya, mereka harus “jemput bola”, nggak nungguin anak-anak ini datang sendiri.

Selain itu, sosialisasi layanan call center khusus juga perlu digenjot, lho. Misalnya, lewat Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (Pusapaga) atau Layanan SAPA 129 (Sahabat Perempuan dan Anak). Tujuannya jelas, biar masyarakat dan orang tua gampang lapor kalau mereka kesulitan ngurusin anak-anaknya.

“Langkah jemput bola ini adalah bukti nyata kalau negara itu hadir buat nyelametin anak-anak yang udah kehilangan arah,” tegas Isa.

Yang juga penting, Isa Ansori menekankan kalau pemerintah itu nggak boleh ragu-ragu buat nempatin anak-anak ini di asrama. Ini bukan hukuman, ya. Ini justru bentuk intervensi penuh cinta dan tanggung jawab negara, sesuai amanat Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, Pasal 21. Di situ kan jelas, negara wajib ngasih perlindungan khusus buat anak yang ngalamin masalah sosial.

Surabaya udah ngambil langkah berani ini. Sekarang, tantangannya adalah gimana caranya terus memperkuat pendekatan ini. Isa berharap, anggaran bisa diperbesar, jumlah pengasuh ditambah, standar pembinaan ditingkatkan, dan jangkauan program diperluas ke seluruh kota.

“Di tengah tantangan zaman yang makin kompleks ini, nyelametin satu anak dari kehancuran itu sama aja nyelametin generasi,” pungkas Isa. “Surabaya itu nggak cuma lagi ngebangun trotoar, jalan, atau gedung-gedung tinggi. Surabaya itu lagi ngebangun peradaban dan RIAS ini jadi salah satu pondasi pentingnya.”

Bagaimana menurut kalian, apakah langkah Pemkot Surabaya ini sudah tepat untuk merangkul masa depan anak-anak?

 

 

Anda mungkin juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda, menampilkan konten yang relevan, serta menganalisis lalu lintas situs. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie sesuai dengan kebijakan privasi kami. Accept Read More