Kata Febri 7/10
Troll 2 (2025) hadir sebagai kelanjutan dari film pertamanya yang sukses memadukan folklore Norwegia dengan tontonan monster modern. Kali ini, semesta Troll berkembang lebih luas, lebih gelap, dan jauh lebih emosional. Dari sisi ambisi, ini adalah sekuel yang jelas ingin melakukan sesuatu yang lebih daripada hanya “mengulang formula” yang sama. Jadi so pasti harus nonton yg pertama dulu baru nonton sekuelnya.
Sekuelnya juga masih dibintangi aktor-aktris bebelumnya, yakni Ine Marie Wilmann, Kim S. Falck-Jørgensen, Mads Sjøgård serta dibantu Sara Khorami, Jon Ketil Johnsen, Gard B. Eidsvold, Aksel Almaas, dan Trond Magnum. Film rilisan Netflix ini konon adalah produksi film terbesar yang pernah dibuat di wilayah Skandinavia. Setelah sukses film sebelumnya tentunya.
Yang membuat Troll (2022) begitu menarik adalah kombinasi cerita legenda Norwegia serta aksi-aksinya yang menghibur. Walau puluhan kisah monster senada telah banyak diproduksi Barat, tetapi sisi mitos dan latar wilayah Skandininavia yang dingin dan berbukit menjadi sentuhan segar bagi genrenya.
Peningkatan kualitas visual adalah salah satu nilai jual terbesar Troll 2. Tekstur kulit troll terlihat sangat realistis, pencahayaan natural, dan interaksi makhluk raksasa dengan lingkungan dibuat dengan presisi. Setiap langkah troll meninggalkan jejak kerusakan yang terasa berbobot.
Salah satu keputusan kreatif yang cukup dipertanyakan di Troll 2 (2025) adalah ketika film memasukkan konflik troll melawan troll, lengkap dengan adegan saling serang, duel raksasa, hingga momen brutal di mana satu troll harus membunuh troll lainnya. Walaupun secara visual terasa spektakuler, bagian ini memiliki sejumlah dampak negatif yang cukup disayangkan. Tema ekologis adalah fondasi cerita, troll bangun karena alam semakin rusak. Tetapi begitu mereka bertarung antarsesama, fokus ini memudar. Akhirnya, film terasa kontradiktif, di satu sisi ingin memberi empati kepada troll, tapi di sisi lain memaksa mereka saling membantai demi drama.
Di separuh pertama film, troll digambarkan sebagai makhluk yang punya insting melindungi, punya ikatan keluarga dan teritorial, jarang menyerang tanpa trigger. Namun tiba-tiba mereka saling berkelahi secara brutal, seolah-olah memiliki rivalitas internal yang tidak pernah dibangun sebelumnya. Konflik ini terasa dipaksakan demi memperbesar skala aksi. Pertarungan antar troll memang keren dilihat, tapi secara tematis justru menghilangkan kesan mitologis, membuat pesan film tidak fokus, dan melemahkan karakterisasi makhluk itu sendiri. Elemen ini membuat Troll 2 terasa ingin menjadi film monster padahal daya tarik utamanya justru pada kedalaman folklore dan hubungan manusia dan alam.
Sinopsis :
Beberapa tahun setelah peristiwa besar sebelumnya, pemerintah menemukan satu monster troll yang tengah dalam hibernasi di sebuah gua raksasa. Nora (Wilmann) kembali direkrut untuk meneliti, tetapi justru sang monster mendadak terbangun dari tidurnya. Usaha pihak militer untuk mengatasi sang monster yang beraksi brutal pun sia-sia. Nora malah membangunkan satu troll lain yang dimaksudkan untuk menghentikan troll tersebut tetapi usahanya sia-sia. Diketahui, sang troll jahat rupanya berniat untuk membalaskan dendam pada mendiang Raja Olaf yang dulu membantai kaumnya. Makam sang raja berada di jantung kota Jotunheim yang padat dengan penduduk