KATAMEREKA – Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa mematok target optimistis untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026. Meski asumsi dasar ekonomi makro dalam APBN berada di angka 5,4%, Menkeu meyakini Indonesia mampu menyentuh level 6% dengan mengaktifkan kembali “mesin-mesin” ekonomi yang sempat melambat.
Dalam acara Economic Outlook 2026, Purbaya menegaskan bahwa target tersebut bukan sekadar cita-cita, melainkan rencana kerja yang terukur. Salah satu kunci utamanya adalah memacu sektor swasta untuk bergerak lebih masif.
”Target saya adalah menghidupkan kembali mesin-mesin ekonomi yang kemarin nganggur. Kalau kita mau ke arah 8 persen secara bertahap, maka tahun depan (2026) harus 6 persen. Kita harus lebih cepat lagi,” ujar Purbaya dalam tayangan YouTube Kompas TV, dikutip Sabtu (20/12/2025).
Untuk mencapai target tersebut, Kementerian Keuangan meluncurkan program Debottlenecking. Program ini dirancang sebagai jalur cepat bagi pelaku usaha yang menghadapi hambatan birokrasi maupun regulasi di lapangan. Purbaya menyatakan tidak ingin hanya menerima laporan di atas kertas yang selalu tampak sempurna. Ia akan memimpin langsung sidang mingguan untuk membedah masalah investasi secara nyata.
“Saya akan alokasikan waktu satu hari setiap minggu untuk memimpin sidang. Kita akan pastikan berapa masalah yang selesai. Kalau ada kementerian lain yang tidak setuju atau menghambat langkah ini, saya potong anggarannya,” tegasnya.
Menkeu menjelaskan bahwa selain mesin fiskal melalui program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), penguatan daya beli domestik menjadi benteng utama di tengah ketidakpastian global. Menurutnya, permintaan domestik menyumbang 90% terhadap perekonomian nasional.
Ia juga menekankan pentingnya transformasi ke sektor manufaktur untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap).
”Kalau kita puas hanya di angka 5 persen, kita akan terjebak di middle income trap. Kita mau paksa Indonesia menjadi negara maju dalam 10-15 tahun ke depan. Syaratnya, manufaktur harus didorong kembali,” tambah Purbaya.
Optimisme Menkeu Purbaya juga didukung oleh kondisi pasar modal. Ia memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan terus meroket seiring dengan perbaikan fondasi ekonomi. Bahkan, ia tidak ragu menyebut target pertumbuhan di atas 6% pada 2026 tidak akan terlalu sulit dicapai jika sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter berjalan selaras.