Lewat Si-Boyo, Pemkot Surabaya Bangun Ekosistem Ekonomi Lokal Berbasis Koperasi

Oleh Didit

KATAMEREKA: SURABAYA, Dari lorong-lorong kelurahan, Pemerintah Kota Surabaya mulai menata ulang wajah ekonomi rakyat. Kali ini bukan lewat baliho atau seremoni semata, melainkan melalui sebuah platform belanja digital bernama Si-Boyo, yang digadang-gadang menjadi jembatan baru antara koperasi kelurahan dan pelaku UMKM di level paling bawah.

Aplikasi yang diluncurkan melalui Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan (Dinkopumdag) itu dirancang sebagai solusi ekonomi berbasis komunitas. Si-Boyo mengintegrasikan Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) dengan UMKM lokal, sehingga transaksi ekonomi tidak lagi terputus di tengah jalan, tetapi berputar dan tumbuh di lingkungan warga sendiri.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkot Surabaya, Agus Imam Sonhaji, menilai kehadiran Si-Boyo sebagai langkah adaptif menghadapi perubahan zaman. Menurutnya, koperasi tidak bisa terus bertahan dengan pola lama di tengah percepatan digital. Namun, transformasi itu tetap harus berakar pada nilai gotong royong yang menjadi napas koperasi sejak awal.

“Ini bukan sekadar aplikasi belanja, tetapi ikhtiar membangun ekosistem ekonomi rakyat yang lebih adil,” kata Agus. Ia menegaskan, Si-Boyo menjadi wujud nyata penerapan Ekonomi Pancasila—ekonomi yang berpihak pada warga kecil, pelaku UMKM, hingga ibu rumah tangga yang ingin mandiri secara finansial tanpa harus keluar dari lingkaran komunitasnya.

Aplikasi Si-Boyo yang diluncurkan Dinkopumdag Pemkot Surabaya

Agar tidak berhenti sebagai proyek simbolik, Pemkot Surabaya juga meminta peran aktif aparat wilayah. Seluruh camat diminta melakukan pengawasan ketat terhadap operasional KKMP dan UMKM di wilayahnya masing-masing. Tujuannya jelas, memastikan Si-Boyo benar-benar menggerakkan transaksi riil dan memberi dampak langsung pada perputaran ekonomi kelurahan.

Sementara itu, Kepala Dinkopumdag Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, menyebut Si-Boyo sebagai ruang baru bagi UMKM untuk naik kelas. Melalui platform ini, pelaku usaha kecil tidak hanya mendapatkan etalase digital, tetapi juga akses pasar yang lebih luas dan terhubung langsung dengan koperasi sebagai penguat distribusi.

Saat ini, uji coba Si-Boyo telah berjalan di tujuh koperasi kelurahan, yakni KKMP Mojo, Kertajaya, Gunung Anyar, Jagir, Sumur Welut, Jajar Tunggal, dan Banyu Urip. Pemerintah menargetkan seluruh 153 koperasi kelurahan di Surabaya akan segera terintegrasi penuh ke dalam aplikasi tersebut.

Jika target itu tercapai, Si-Boyo berpotensi menjadi model digitalisasi koperasi berbasis kelurahan yang bukan hanya mengikuti tren teknologi, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi lokal dari bawah. Sebuah langkah kecil dari layar ponsel, dengan harapan besar bagi ketahanan ekonomi warga Surabaya.

 

Tinggalkan Komentar

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda, menampilkan konten yang relevan, serta menganalisis lalu lintas situs. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie sesuai dengan kebijakan privasi kami. Accept Read More