KATAMEREKA: Amerika Serikat kembali membuat panggung geopolitik global berguncang. Di tengah suhu politik internasional yang memanas, Washington memilih menarik rem keras dengan mengundurkan diri dari 66 organisasi internasional sekaligus. Keputusan besar ini bukan hanya soal keanggotaan, tetapi juga tentang putusnya aliran dana, pengaruh, dan arah kepemimpinan global Amerika di berbagai sektor strategis dunia.
Langkah tersebut tertuang dalam Memorandum Presiden tertanggal 7 Januari 2026 yang ditandatangani Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam kebijakan itu, AS resmi menarik diri dari 31 organisasi di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa serta 35 lembaga internasional non-PBB. Seluruh pendanaan terhadap organisasi-organisasi tersebut juga diperintahkan untuk dihentikan sesegera mungkin.
Daftar lembaga yang ditinggalkan bukan nama kecil. Organisasi-organisasi itu selama ini bergerak di bidang energi, perubahan iklim, lingkungan hidup, pembangunan berkelanjutan, hak asasi manusia, tata kelola pemerintahan, demokrasi, keamanan regional, isu sosial dan gender, kependudukan, teknologi, ekonomi global, pendidikan, budaya, pengetahuan, hingga kerjasama kemanusiaan dan geopolitik internasional.
Trump menyebut keputusan ini sebagai hasil evaluasi panjang terhadap posisi Amerika di panggung multilateral. Ia mengingatkan bahwa sejak 4 Februari 2025, pemerintahannya telah menerbitkan Perintah Eksekutif 14199 yang menginstruksikan peninjauan total terhadap seluruh keterlibatan Amerika Serikat di organisasi internasional, khususnya yang berada di bawah bendera PBB.
Setelah melalui konsultasi dengan Perwakilan Tetap AS untuk PBB, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat diminta menelusuri satu per satu keanggotaan dan aliran dana Washington ke berbagai lembaga antar pemerintah. Hasilnya, menurut Trump, menunjukkan bahwa keberlanjutan partisipasi Amerika di sejumlah organisasi justru dinilai bertentangan dengan kepentingan nasional AS.
Trump menegaskan bahwa tetap menjadi anggota, berpartisipasi, atau bahkan sekadar memberikan dukungan kepada organisasi yang tercantum dalam memorandum tersebut tidak lagi sejalan dengan arah kebijakan keamanan, ekonomi, dan kedaulatan Amerika Serikat. Atas dasar itu, seluruh lembaga eksekutif dan departemen pemerintahan diperintahkan untuk menghentikan pendanaan dan memulai proses penarikan diri secara resmi.
Keputusan ini hadir di saat hubungan Amerika Serikat dengan Venezuela berada pada titik paling tegang dalam beberapa tahun terakhir. Situasi tersebut membuat kebijakan luar negeri AS kian menonjolkan pendekatan unilateral dan berbasis kepentingan strategis nasional, dibandingkan kerja sama multilateral yang selama ini menjadi fondasi tata dunia pasca Perang Dunia II.
Trump juga menegaskan bahwa untuk entitas di bawah PBB, penarikan diri berarti penghentian partisipasi dan pendanaan sejauh diizinkan oleh hukum Amerika Serikat. Ia menyebut proses peninjauan masih terus berjalan, membuka kemungkinan adanya langkah lanjutan terhadap organisasi internasional lain di masa mendatang.

Ilustrasi AS hengkang dari 66 organisasi Global
Di tengah langkah mundur Amerika Serikat, Pemerintah China justru menyatakan sikap sebaliknya. Beijing menegaskan tetap mendukung multilateralisme dan peran sentral Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam urusan internasional, meskipun AS memilih keluar dari puluhan organisasi global.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers di Beijing pada Kamis 8 Januari 2026, menyatakan bahwa China akan terus berkomitmen pada kerja sama multilateral. Ia menegaskan bahwa apa pun dinamika yang terjadi, China akan tetap mendukung peran sentral PBB dan bekerja bersama komunitas internasional untuk membangun sistem tata kelola global yang lebih adil dan setara.
Mao Ning juga menekankan bahwa langkah Amerika Serikat ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Menurutnya, penarikan diri AS dari lembaga internasional sudah berulang kali dilakukan di masa lalu dan selalu membawa dampak terhadap stabilitas kerja sama global.
Ia mengingatkan bahwa organisasi internasional dan lembaga multilateral tidak dibentuk untuk mewakili kepentingan egois satu negara tertentu. Lembaga-lembaga tersebut, kata Mao Ning, hadir untuk menjunjung kepentingan bersama seluruh negara anggota dan menjadi ruang kolektif dalam menyelesaikan persoalan lintas batas.
Bagi komunitas internasional, dinamika ini menandai pergeseran penting dalam keseimbangan global.
Di bidang keamanan internasional, berkurangnya peran Amerika Serikat di berbagai forum strategis berpotensi melemahkan koordinasi penanganan konflik.
Di sektor ekonomi global, langkah ini memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas sistem perdagangan dan pembangunan dunia. Sementara di ranah sosial dan kemanusiaan, penghentian pendanaan AS dikhawatirkan memperlambat berbagai program internasional yang selama ini bergantung pada kontribusi Washington.
Di saat Amerika Serikat memilih menarik diri, China berupaya memposisikan diri sebagai pendukung utama multilateralisme. Pergeseran ini berpotensi mengubah arah kepemimpinan global, membuka babak baru persaingan pengaruh, sekaligus menguji ketahanan sistem internasional yang selama ini dibangun di atas kerja sama bersama.