Banjir Bengawan Jero Rendam Lamongan, Ratusan Rumah Warga Terdampak

Oleh Didit

KATAMEREKA: Lamongan, Hujan berintensitas tinggi yang turun nyaris tanpa jeda sejak pertengahan Desember 2025 merubah fungsi halaman dan ruang tamu rumah warga Desa Laladan, Kecamatan Deket, Lamongan seakan menjadi kolam pancing. Sudah sepekan luapan Sungai Bengawan Jero bertahan tanpa tanda-tanda surut.. Air tak hanya datang dari langit, tetapi juga kiriman dari Waduk Gondang yang membuat debit Sungai Bengawan Jero melonjak dan meluap ke kawasan permukiman warga.

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa saat bertemu warga korban banjir di desa Laladan.

Salah satu titik terdampak paling nyata berada di Desa Laladan, Kecamatan Deket. Kawasan ini menjadi sorotan setelah Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Bupati Lamongan Yuhronur Efendi turun langsung meninjau lokasi banjir pada Sabtu (10/1). Kunjungan tersebut bukan sekadar simbolik, melainkan bagian dari upaya memastikan penanganan berjalan cepat dan warga tidak dibiarkan menghadapi bencana sendirian.

“Negara harus hadir saat masyarakat mengalami kesulitan. Kami ingin memastikan warga aman, kebutuhan dasar terpenuhi, dan penanganan terus berjalan,” ujar Khofifah di sela-sela peninjauan.

Di Kecamatan Deket, banjir tercatat merendam empat desa, yakni Weduni, Tukerto, Sidomulyo, dan Laladan. Air menggenangi jalan poros desa hingga jalan lingkungan dengan ketinggian bervariasi antara 10 sampai 26 sentimeter. Kondisi ini berdampak langsung pada mobilitas warga, distribusi barang, serta aktivitas ekonomi harian masyarakat.

Data sementara mencatat sedikitnya 538 rumah warga terdampak. Meski tinggi air di permukiman relatif rendah, berkisar 5 hingga 10 sentimeter, genangan tetap menimbulkan risiko kesehatan, kerusakan perabot rumah tangga, serta gangguan aktivitas kerja dan sekolah. Hingga kini, genangan dilaporkan dalam kondisi stabil, namun kewaspadaan tetap diperlukan mengingat potensi hujan susulan.

Tak hanya Deket, banjir juga meluas ke sejumlah kecamatan lain seperti Kalitengah, Turi, Karangbinangun, dan Glagah. Pola ini menunjukkan bahwa persoalan banjir di Lamongan bukan sekadar peristiwa musiman, melainkan tantangan struktural yang menuntut penguatan sistem pengendalian air, normalisasi sungai, serta koordinasi lintas wilayah.

Pemerintah daerah bersama Pemprov Jawa Timur menegaskan komitmen untuk memperkuat langkah mitigasi bencana, mulai dari pemantauan debit sungai, kesiapsiagaan tim lapangan, hingga perbaikan infrastruktur drainase dan pengelolaan waduk. Di sisi lain, aspek sosial dan ekonomi warga terdampak juga menjadi perhatian, agar pemulihan pasca banjir dapat berjalan cepat dan berkelanjutan.

Anda mungkin juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda, menampilkan konten yang relevan, serta menganalisis lalu lintas situs. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie sesuai dengan kebijakan privasi kami. Accept Read More