KATAMEREKA – Selama ini, kita mengenal Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe Letto sebagai sosok yang mahir membawakan syair penuh makna dalam setiap alunan lagu Letto band. Namun bagi kalangan Jamaah Maiyah, sosok di balik lirik – lirik puitis Letto ini lebih akrab disapa dengan panggilan “Gus Sabrang”. Sebuah sapaan takzim bagi seorang pemikir yang mampu membedah persoalan rumit menjadi logika sederhana yang membumi. Kini, “logika Maiyah” itu dibawa Gus Sabrang ke dalam ranah pertahanan negara. Pada hari Kamis 15/1/2026, ada peran baru yang ia emban. Bukan di atas panggung musik, melainkan di ruang ketahanan nasional.
Kamis itu, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin resmi melantik Sabrang MDP sebagai salah satu Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional. Sebuah langkah yang mungkin bagi sebagian orang terasa mengejutkan, namun jika kita telisik lebih dalam, terasa sangat masuk akal.
Para pakar ini dipilih untuk mengintegrasikan keahlian akademis dan praktis. Kehadiran Sabrang di jajaran Tenaga Ahli Utama, Madya, dan Muda ini dianggap sebagai amunisi segar bagi pemerintah untuk memetakan strategi Geopolitik dan Geostrategi Indonesia di masa depan.
“Ini adalah langkah nyata Kemhan dalam merangkul para pemikir terbaik bangsa guna mendukung kelancaran tugas-tugas Dewan Pertahanan Nasional,” ujar Menhan Sjafrie.
Menhan Sjafrie melantik 12 tenaga ahli Dewan Pertahanan Nasional. (foto/ist)
Kini dunia tidak lagi hanya soal adu kekuatan fisik. Tantangan global yang kita hadapi adalah perang cara berpikir, ketahanan informasi, dan kecerdasan memetakan masa depan. Di sinilah letak keahlian Sabrang MDP. Ia bukan sekadar musisi ia adalah seorang “arsitek pikiran” yang selama ini konsisten mengajak masyarakat berpikir kritis dan sistematis.
Sosok yang berdiri di persimpangan jalan antara seni, sains, dan filsafat ini lahir di Yogyakarta 10 Juni 1979, putra dari budayawan besar Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Jauh sebelum ia dikenal sebagai vokalis band Letto, Sabrang telah mengasah ketajaman berpikirnya di University of Alberta, Kanada. Mengambil gelar ganda di bidang Matematika dan Fisika, latar belakang sains inilah yang membentuk pola pikirnya yang sangat sistematis.
Baginya, segala sesuatu di dunia ini memiliki pola. Kemampuannya membedah struktur masalah yang kompleks menjadi penjelasan yang sederhana dan filosofis membuatnya menjadi salah satu mentor pemikiran paling berpengaruh bagi generasi muda saat ini.
Lewat band Letto, Sabrang membawa warna musik yang sarat akan makna eksistensial. Namun, kontribusinya melampaui musik. Melalui platform digital dan forum-forum diskusi, ia konsisten menyuarakan pentingnya kedaulatan berpikir dan pemahaman mendalam tentang jati diri bangsa. Ia juga aktif dalam pengembangan teknologi informasi dan analisis data melalui Cakra Wikara Indonesia, sebuah bukti bahwa ia memiliki kaki yang kuat di dunia praktis dan teknologi.
Penandatanganan sumpah jabatan tenaga ahli Dewan Pertahanan Nasional. (foto/ist)
Bersama 11 pakar lainnya, Sabrang akan mengisi posisi di kedeputian Geoekonomi, Geopolitik, dan Geostrategi. Tugasnya menjadi kawan diskusi bagi negara dalam membaca arah angin dunia yang kian sulit ditebak.
Jembatan Antara Teori dan Realita Dalam filosofi hidup yang sering ia bagikan, Sabrang selalu menekankan pentingnya mencari “akar” masalah sebelum mencari solusi. Prinsip inilah yang tampaknya membawa Sabrang ke dalam tubuh DPN.
Pelantikan Sabrang dan 11 pakar lainnya ini bukan sekadar simbol penyerahan jaabatan, namun ini adalah pesan menarik bahwa pertahanan negara bukan hanya urusan senjata. Pertahanan negara dimulai dari kedaulatan cara berpikir.