Review : Sore: Istri dari Masa Depan (2025)

Oleh Febrian Issana

Kata Febri 7/10

Akhirnya nonton film ini yang pernah viral dimasanya (yang web series) dan pernah ada yang comment referensi nontonku kurang jauh karena tidak mengikuti seriesnya. Meski gak liat seriesnya tapi akhirnya sudah nonton film ini dan harusnya sudah layak referensi nontonku sudah jauh, wkwkwk.

Sore: Istri dari Masa Depan, yang berangkat dari serial web berjudul sama, menangani elemen perjalanan waktunya lewat pendekatan magical realism, alih-alih fiksi ilmiah yang berupaya memberi penjelasan logis. Keajaibannya, yang menelusuri gagasan bahwa cinta mampu menembus ruang dan waktu, memang bukan untuk dijabarkan, tapi dirasakan. Sungguh kisah yang indah.

Yang membuat Sore terasa berbeda adalah keberaniannya menjadikan konsep time travel sebagai latar, bukan pusat tontonan. Film ini tidak sibuk menjelaskan paradoks waktu atau teori ilmiah yang rumit. Fokusnya justru pada pertanyaan yang lebih manusiawi “Jika kamu tahu masa depan orang yang kamu cintai akan menyakitkan, apakah kamu tetap memilih mencintainya?”.

Alur ceritanya bergerak pelan, bahkan cenderung kontemplatif. Banyak adegan diisi dialog panjang, tatapan diam, dan momen sederhana seperti sarapan, obrolan sore, atau kebersamaan tanpa konflik besar. Justru di sanalah kekuatan film ini membuat penonton diajak merasakan, bukan dikejutkan. Tapi justru terlalu lama durasinya membuat sedikit membosankan.

Sepertinya ini bukan film untuk semua orang, tapi sangat cocok untuk penonton yang sedang merenung tentang hidup, hubungan, dan waktu.

Jika kebanyakan penonton melihat Sore sebagai kisah cinta lintas waktu, film ini justru bisa dibaca sebagai cerita tentang seseorang yang menunda hidupnya sendiri. Unsur “istri dari masa depan” bukanlah pusat konflik, melainkan alat naratif untuk memaksa tokoh utama bercermin.

Sore hadir seperti suara hati yang datang terlambat representasi dari penyesalan, bukan sosok ajaib. Ia tahu apa yang akan terjadi bukan karena ia datang dari masa depan secara literal, tapi karena ia sudah pernah menjalani hidup itu. Hidup bersama seseorang yang pasif, takut mengambil keputusan, dan membiarkan waktu berjalan begitu saja.

Masih mau hidup dengan orang seperti itu? Cinta buta dengan kata kunci “tapi dia berubah” Dimana kita tau manusia tidak mudah berubah.

Sinopsis :

Seorang pria menjalani hidup yang biasa dan cenderung stagnan, hingga suatu sore muncul seorang perempuan misterius yang mengaku sebagai istrinya dari masa depan. Kehadiran perempuan itu perlahan mengubah rutinitas dan cara pandangnya tentang hidup, cinta, serta pilihan yang selama ini ia abaikan.

Lewat kebersamaan sederhana dan percakapan yang intim, terungkap bahwa kedatangan sang “istri dari masa depan” bukan kebetulan, melainkan usaha untuk mengubah sebuah takdir yang berujung pada penyesalan. Namun, semakin dekat mereka, semakin jelas bahwa waktu tidak semudah itu untuk dilawan.

Anda mungkin juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda, menampilkan konten yang relevan, serta menganalisis lalu lintas situs. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie sesuai dengan kebijakan privasi kami. Accept Read More