Kata Febri 7,5/10
Lima tahun setelah Bumi hancur akibat hantaman fragmen komet Clarke, umat manusia tersisa hidup dalam kondisi ekstrem. Dalam Greenland (2020) kita melihat keluarga Garrity berlindung dalam bunker di Greenland. Dalam Migration, kondisi yang dulu dianggap aman berubah drastis bunker tempat mereka berlindung mulai tak lagi stabil dan ramah hidup. Ancaman beragam dari komet sisa, badai radiasi, hingga gelombang pasang raksasa membuat John Garrity (Butler), Allison (Baccarin), dan Nathan (Davis) terpaksa meninggalkan bungker. Mereka memulai perjalanan jauh melalui dunia beku yang hancur, menuju wilayah yang disebut mungkin masih layak huni (misal di Eropa), untuk mencari tempat baru bagi kelangsungan hidup keluarga dan umat manusia.
Perjalanan Garrity bukan sekadar bertahan dari bencana tetapi menyimbolkan migrasi manusia ke tempat yang lebih aman saat rumahnya sendiri hancur. Film ini mencoba menggambarkan bagaimana manusia menghadapi ketidakpastian, kelemahan, dan harapan dalam kondisi ekstrim. Di dunia tanpa hukum, ancaman terbesar bukan lagi meteor, melainkan kelompok penyintas lain yang putus asa.
Kekuatan utama film ini tetap pada performa Gerard Butler sebagai sosok ayah yang lelah namun pantang menyerah. Hubungan emosional keluarga Garrity terasa sangat nyata dan menjadi jangkar di tengah kekacauan plot.
Walau berbalut aksi dan ketegangan, pusat ceritanya tetap hubungan keluarga Garrity. John sebagai ayah dan pelindung, Allison sebagai penopang emosional, serta Nathan yang tumbuh di masa krisis semuanya memberi dimensi emosional yang lebih dalam daripada sekadar film bencana biasa
Greenland 2: Migration adalah pilihan yang solid jika menyukai genre post-apocalyptic seperti The Last of Us atau The Road. Film ini bukan sekadar tentang bencana alam, tapi tentang seberapa jauh seseorang akan melangkah demi melindungi keluarganya.

Sinopsis :
Setelah selamat di dalam bunker di Greenland pada film pertama, keluarga Garrity (John, Allison, dan putra mereka Nathan) menyadari bahwa tempat perlindungan mereka tidak lagi aman akibat kerusakan infrastruktur dan kondisi bumi yang tidak stabil. Mereka terpaksa memulai perjalanan berbahaya melintasi Eropa yang hancur dan beku untuk mencari rumah baru di area kawah tempat komet jatuh, yang dikabarkan menyimpan kehidupan baru. Perjalanan ini penuh dengan tantangan, termasuk kondisi alam ekstrem, kelangkaan sumber daya, dan ancaman dari kelompok penyintas brutal lainnya.