Kata Febri 8/10
Netflix kembali menghidupkan dunia Agatha Christie lewat Seven Dials (2026), sebuah adaptasi bebas dari novel The Seven Dials Mystery. Alih-alih sekadar menyalin cerita klasik, film ini memilih pendekatan yang lebih modern tanpa menghilangkan aroma khas Christie seperti penuh intrik, teka-teki berlapis, dan karakter-karakter yang tampak remeh tapi ternyata menyimpan rahasia besar. Hasilnya adalah film misteri yang tidak terlalu berat. Meski saya pribadi belum membaca versi novelnya.
Berbeda dengan adaptasi Christie lain yang mengandalkan figur besar seperti Hercule Poirot, Seven Dials tidak punya detektif super ikonik. Ini justru menjadi kelebihannya. Serial ini mengemas perjalanan Bundle dari seorang sosialita yang ceria menjadi detektif amatir yang tangguh dalam membongkar kejahatan yang mengancam keamanan negara.
Tokoh utama perempuan digambarkan cerdas tapi tidak sok jenius, ceroboh tapi penuh empati dan berani, namun masih manusiawi. Penonton diajak menemukan misteri bersamanya, bukan sekadar menyaksikan tokoh jenius menjelaskan segalanya di akhir. Seperti pada cerita detektif pada umumnya. Para karakter pendukung seperti bangsawan, politisi, sosialita, hingga pelayan tidak ada yang benar-benar polos. Semua terasa punya motif, dan film ini pintar memainkan kesan pertama kita terhadap mereka.
Visual dan estetika dengan latar 1920an sangat memanjakan mata. Netflix tidak main-main dengan produksinya. Penggambaran era pasca-Perang Dunia I terasa sangat autentik melalui desain kostum dan lokasi syuting yang megah, seperti penggunaan rumah mewah sebagai latar utama. Pencahayaannya memberikan kesan hangat namun misterius, sangat mendukung atmosfer country house mystery.
Seven Dials (2026) adalah bukti bahwa karya Agatha Christie masih sangat relevan, asalkan diadaptasi dengan cerdas. Film ini tidak mencoba menjadi Knives Out, tidak pula meniru Murder on the Orient Express. Ia berdiri dengan identitas sendiri lebih sunyi, lebih licik, dan lebih membumi. Alurnya cukup cepat untuk ukuran miniseri (hanya 3 episode), sehingga cocok bagi penonton yang tidak ingin terjebak dalam drama yang berlarut-larut. Sebuah tontonan misteri yang cerdas, elegan, dan tidak melelahkan, cocok dinikmati oleh penonton awam yang ingin berpikir sedikit lebih dalam tanpa harus merasa “terlalu bodoh” ataupun “terlalu pusing”.

Sinopsis :
Berawal dari lelucon delapan jam weker yang berakhir maut di sebuah pesta rumah mewah, Lady Eileen “Bundle” Brent (Mia McKenna-Bruce) mencurigai bahwa kematian temannya bukanlah kecelakaan biasa.
Penyelidikannya mengungkap keberadaan “Seven Dials”, sebuah organisasi rahasia misterius yang terlibat dalam konspirasi pencurian rahasia negara. Bersama Superintendent Battle (Martin Freeman), Bundle harus mengungkap siapa dalang di balik organisasi tersebut sebelum nyawanya sendiri terancam