Cari Jodoh Pakai CV? Cindo Match Hadirkan Budaya Tionghoa Versi Modern

Oleh Didit

KATAMEREKA: JAKARTA, Mencari jodoh kini tak lagi harus lewat mak comblang, grup WhatsApp keluarga, atau pertanyaan klasik saat Imlek: “Kapan nyusul nikah?” Di Mall of Indonesia (MOI), Kelapa Gading, Jakarta Utara, urusan asmara justru naik kelas, dengan dipajang rapi di balik kaca etalase, lengkap dengan format ala curriculum vitae (CV).

Namanya Cindo Match, sebuah ajang perjodohan yang mengawinkan cara modern dengan nilai budaya Tionghoa yang menjunjung seriusnya mencari pasangan hidup. Alih-alih memamerkan tas bermerek atau sepatu mahal, etalase ini menampilkan profil para lajang pria dan perempuan yang siap membangun masa depan, bukan sekadar cari teman ngopi.

Setiap CV memuat informasi dasar seperti usia, pendidikan, hingga pekerjaan. Semuanya dipajang terbuka dan bisa “dilihat-lihat” oleh pengunjung mal, mirip membaca katalog, bedanya, yang ini katalog calon menantu.

Founder Cindo Match, Angie, menegaskan bahwa konsep ini bukan main-main. Budaya Tionghoa dikenal sangat mempertimbangkan latar belakang pendidikan, stabilitas kerja, dan keseriusan dalam relasi. Karena itu, peserta Cindo Match harus melewati proses kurasi ketat.

“Banyak sekali member yang berkualitas karena disortir dengan sangat ketat. Rata-rata S1, yang S2 juga banyak,” ujar Angie.

Ada pula kriteria usia: pria minimal 25 tahun dan perempuan minimal 20 tahun. Bukan tanpa alasan—dalam tradisi Tionghoa, menikah bukan cuma soal cinta, tapi juga kesiapan mental, ekonomi, dan restu keluarga besar.

Soal biaya, Cindo Match justru terbilang ramah dompet. Peserta bisa memilih beberapa paket: memajang CV seharga Rp100 ribu, paket bundling Rp250 ribu untuk memilih hingga enam CV, atau paket fast track senilai Rp250 ribu bagi mereka yang tak mau berlama-lama menunggu takdir.

Bagi sebagian pengunjung, harga tersebut dianggap sepadan dengan pengalaman unik yang ditawarkan. Di tengah budaya kencan digital yang serba cepat dan sering tak jelas ujungnya, Cindo Match hadir sebagai alternatif “cari jodoh serius” yang lebih transparan, bahkan nyaris seperti seleksi kerja, tapi dengan tujuan menikah.

Saat ini, Cindo Match masih menyasar komunitas Tionghoa Indonesia dan dijalankan sebagai proyek percontohan. Namun antusiasme pengunjung menunjukkan satu hal: di tengah modernitas kota besar, budaya lama tak benar-benar hilang—ia hanya beradaptasi, bahkan bisa tampil manis di etalase mal.

Siapa tahu, dari sekian CV yang terpajang, ada satu yang bukan cuma cocok di atas kertas, tapi juga cocok dikenalkan ke keluarga saat Imlek tahun ini.

Anda mungkin juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda, menampilkan konten yang relevan, serta menganalisis lalu lintas situs. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie sesuai dengan kebijakan privasi kami. Accept Read More