Dejavu Geopolitik, Saat Ramalan Prabowo Soal Iran Jadi Nyata

Oleh Didit

KATAMEREKA: SURABAYA, Gesekan panas antara Amerika Serikat dan Iran yang saling hantam yang dipicu dari serangan AS terhadap tiga pangkalan nuklir Iran, dan dibalas Iran dengan hujan rudal ke pangkalan militer AS di Qatar, seolah menjadi dejavu. Ingatan kita langsung melayang pada pernyataan Presiden terpilih Prabowo Subianto pada April lalu. Kala itu, Prabowo sudah mewanti-wanti potensi serangan ke Iran dan ancaman Perang Dunia III. Pernyataan itu kini kembali viral setelah tensi Iran-Amerika memuncak.

Dalam sebuah potongan video wawancara dengan tujuh pemimpin redaksi pada Minggu, 6 April 2025, di kediamannya di Hambalang, Jawa Barat, Prabowo dengan gamblang menyebutkan bahwa serangan terhadap Iran bisa memicu reaksi keras dari Rusia.

“Yang sangat berbahaya yang bisa memicu Perang Dunia Ketiga. Ini tidak main-main, benar-benar. Saya pelajari tiap malam, saya lihat, this is a very dangerous time, very dangerous time. Amerika siap mau nyerang Iran, Rusia mengatakan, jangan menyerang Iran. Kalau menyerang Iran, berhadapan dengan saya, Rusia. What does that mean? Masalah Iran nanti Perang Dunia Ketiga. Dan kita sudah non-blok, kita sudah benar,” ujar Prabowo.

Pernyataan ini jelas menunjukkan kekhawatiran mendalam Prabowo terhadap dinamika geopolitik global. Ia menyoroti potensi domino efek yang bisa terjadi jika AS menyerang Iran, di mana Rusia kemungkinan besar akan terlibat, memicu konflik berskala global yang jauh lebih besar.

Dalam wawancara yang sama, Prabowo juga menyinggung dampak dari situasi global yang tidak menentu ini terhadap ekonomi. Ia menegaskan bahwa Indonesia harus bersiap menghadapi gejolak ekonomi yang mungkin terjadi akibat konflik besar.

“Saya lihat dan saya yakini dalam 5, 6, 8 bulan ke depan kita akan membuat langkah-langkah fundamental, terobosan yang akan memperkokoh ekonomi Indonesia di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian. Perang, persaingan hegemoni,” jelasnya.

Ancaman perang, apalagi yang melibatkan kekuatan nuklir, bukan hanya tentang korban jiwa, tetapi juga tentang kehancuran ekonomi. Jika terjadi perang nuklir, Prabowo menyatakan, “kita non-blok saja, kita akan kena. Mungkin yang negara-negara yang punya nuklir, ya, dia matinya lebih cepat. Kita mungkin mati juga, tapi lama kita matinya,” Selorohnya.

Kondisi ini tentu menuntut pemerintah Indonesia untuk lebih cermat dalam merumuskan kebijakan ekonomi dan keamanan nasional. Stabilitas regional dan global adalah kunci bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan. Konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan negara-negara penghasil minyak utama, secara langsung akan memengaruhi harga energi global, rantai pasok, dan investasi.

Pernyataan Prabowo itu, seakan menggarisbawahi pentingnya strategi keamanan nasional yang matang di tengah ancaman Perang Dunia III. Posisi Indonesia sebagai negara non-blok menjadi krusial, namun tidak berarti kita kebal terhadap dampak buruk konflik global. Indonesia harus terus memperkuat diplomasi, mempererat hubungan dengan berbagai pihak, dan menjaga netralitas, sambil tetap waspada terhadap potensi dampak dari konflik yang tak terhindarkan.

“Jadi, dangerous time. Kita harus hati-hati. Dan untuk itulah, saya selalu mengajak, mari kita rukun, mari kita mengatasi persoalan ini bersama,” pungkas Prabowo.

Dengan kondisi global yang semakin tidak menentu, akankah Indonesia mampu menjaga stabilitas dan memperkokoh ekonominya di tengah badai geopolitik yang terus bergolak? Semoga.

 

 

 

Anda mungkin juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda, menampilkan konten yang relevan, serta menganalisis lalu lintas situs. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie sesuai dengan kebijakan privasi kami. Accept Read More