KATAMEREKA: JAKARTA, Sebuah insiden tragis yang terekam dalam video viral di media sosial telah mengguncang publik. Dalam kericuhan aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR RI, Jakarta, seorang pengemudi ojek online (ojol) diduga tewas setelah terlindas kendaraan taktis (rantis) milik polisi, yaitu mobil Barracuda. Peristiwa ini memicu kemarahan dan duka mendalam dari berbagai kalangan.
Video yang diunggah oleh akun Instagram @aliansimahasiswa menggugat, menunjukkan mobil Barracuda melaju di tengah kerumunan massa yang padat. Tiba-tiba, seorang pengemudi ojol yang berada di jalur tersebut terlindas. Lebih memilukan lagi, kendaraan taktis berbobot 11,7 ton itu terus melaju tanpa berhenti untuk memberikan pertolongan.
Menurut berbagai unggahan warganet, korban diidentifikasi dengan inisial AK, seorang warga Jakarta Barat. Dikabarkan, korban sempat dilarikan ke RS Pelni, namun nyawanya tidak dapat tertolong. Kabar ini menimbulkan pertanyaan besar dan menjadi perbincangan hangat di media sosial, di mana publik menuntut kebenaran dan keadilan atas insiden tersebut.
Kericuhan sendiri terjadi saat ribuan mahasiswa melakukan aksi protes. Aparat kepolisian berusaha memukul mundur massa, yang membuat situasi semakin memanas dan berimbas pada penutupan sementara akses Tol Dalam Kota Jakarta dan pengalihan rute kereta api di Stasiun Palmerah.

Tak lama setelah kejadian, para pengemudi ojol melakukan aksi solidaritas dengan mendatangi Batalyon A Brimob Polda Metro Jaya dan meneriakkan kecaman “Pembunuh”. Perwakilan dari Brimob, yang diketahui bernama Jemmy, menyatakan bahwa pimpinan satuannya akan bertanggung jawab. Ia juga berjanji bahwa pelaku akan diperiksa dan diberi sanksi tegas, memberikan sedikit harapan akan adanya penyelesaian yang adil.

Video viral ini telah menarik perhatian luas, termasuk dari sejumlah artis dan selebriti. Mereka mengekspresikan keprihatinan dan mengutuk tindakan ceroboh aparat. Nama-nama seperti Maia Estianty, Aming, Denny Sumargo, Bayu Skak, Gilang Dirga, dan Ernest Prakasa adalah beberapa di antaranya yang menyuarakan kekecewaan mereka melalui media sosial masing-masing, menambah tekanan publik untuk segera mengungkap fakta sebenarnya dan menindak tegas pelakunya.
Saat ini, publik masih menantikan klarifikasi resmi mengenai kebenaran informasi dan identitas korban. Kasus ini menjadi cerminan dari kompleksitas dan risiko yang terjadi di tengah aksi unjuk rasa, di mana nyawa seseorang dapat menjadi korban dari situasi yang tidak terkendali. Akankah insiden ini menjadi titik balik bagi penegakan hukum yang lebih humanis dalam menghadapi aksi massa?