Kasus Super Flu Meningkat, Jawa Timur Jadi Wilayah Terbanyak di Indonesia

Oleh Didit

KATAMEREKA: SURABAYA, Masker yang sempat tersimpan di laci kini kembali relevan. Bukan karena Covid-19, melainkan munculnya Super Flu—influenza varian H3N2 subclade K—yang mulai terdeteksi di sejumlah daerah di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, hingga saat ini terdapat 62 kasus di Tanah Air, dengan Jawa Timur menjadi provinsi dengan temuan terbanyak.

Dari catatan Kemenkes, Jatim menyumbang 23 kasus, disusul Kalimantan Selatan 18 kasus, Jawa Barat 10 kasus, Sumatera Selatan 5 kasus, serta Jawa Tengah, Sulawesi Utara, dan DI Yogyakarta masing-masing satu kasus. Angka ini menjadi sinyal kewaspadaan, terutama di tengah musim hujan dan cuaca ekstrem yang kerap melemahkan daya tahan tubuh.

Pakar Imunologi dan Mikrobiologi Universitas Airlangga (Unair), Dr. dr. Agung Dwi Wahyu Widodo, menegaskan bahwa langkah mitigasi kesehatan perlu segera diperkuat. Salah satu yang paling sederhana, namun efektif, adalah kembali membiasakan diri memakai masker, terutama di ruang publik atau saat kondisi tubuh tidak prima.

Menurut Agung, pandemi Covid-19 seharusnya meninggalkan pelajaran berharga. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bukan sekadar jargon, tetapi fondasi utama pencegahan penyakit menular. “PHBS ini harus benar-benar diterapkan oleh setiap individu. Masker bukan hanya melindungi diri sendiri, tapi juga orang lain,” ujarnya.

Selain perlindungan fisik, faktor istirahat juga tak kalah penting. Agung mengingatkan bahwa tidur cukup berbeda dengan sekadar rebahan. Kelelahan dan stres berkepanjangan dapat menurunkan sistem imun, membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi virus, termasuk Super Flu.

Asupan nutrisi pun menjadi perhatian. Konsumsi sayur dan buah, kata dia, sangat membantu menjaga daya tahan tubuh, apalagi di musim hujan yang rawan penyakit. Ketika gejala flu terasa lebih berat dari biasanya, masyarakat diminta tidak menunda untuk berobat agar gejala tidak berkembang menjadi lebih serius.

Agung juga menyoroti etika batuk dan bersin sebagai bagian dari mitigasi kesehatan. Menggunakan masker saat batuk, tidak membuang tisu sembarangan, serta rajin mencuci tangan dengan air mengalir atau cairan berbasis alkohol menjadi langkah penting untuk memutus rantai penularan. “Virus masuk lewat mulut, hidung, dan mata. Tiga pintu ini harus kita lindungi,” jelasnya.

Soal karakter penyakit, Super Flu disebut berbeda dari flu musiman. Jika flu biasa umumnya mereda dalam waktu sekitar satu minggu, Super Flu dapat bertahan 10 hingga 14 hari dengan keluhan yang lebih berat. Varian ini, lanjut Agung, sebenarnya sudah lama terdeteksi di Amerika Serikat. Namun pada Agustus 2025, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menemukan subclade baru, yakni subclade K, yang memicu gejala lebih serius.

Sejumlah negara bahkan telah mendorong vaksinasi sebagai langkah pencegahan, terutama bagi kelompok rentan. Namun, pesan utamanya tetap sama: pencegahan jauh lebih mudah dan murah dibandingkan pengobatan.

Di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat dan cuaca yang tak menentu, kewaspadaan menjadi kunci. Masker, istirahat cukup, nutrisi seimbang, dan kebiasaan hidup bersih mungkin terdengar sederhana, tetapi justru di sanalah benteng pertama melawan Super Flu dibangun. Sehat selalu kawan.

Anda mungkin juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda, menampilkan konten yang relevan, serta menganalisis lalu lintas situs. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie sesuai dengan kebijakan privasi kami. Accept Read More