KATAMEREKA: JAKARTA, Tak banyak pejabat berani memasang target tinggi di tengah ekonomi yang serba tidak pasti. Tapi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memilih jalan berbeda, ia menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 bisa menembus angka 6 persen seakan target yang belakangan terasa seperti angka “mahal” di tengah lesunya konsumsi dan industri.
Optimisme itu bukan sekadar jargon. Mantan Ketua Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tersebut mengaku memiliki amunisi fiskal yang siap dilepas ke perekonomian pada momen yang tepat. “Tahun 2026 seharusnya pertumbuhan ekonomi bisa 6 persen. Tidak terlalu sulit untuk dicapai,” ujar Purbaya di Jakarta, dikutip Sabtu (3/1/2026).
Pernyataan itu tentu mengundang diskusi panjang. Pasalnya, kondisi ekonomi nasional saat ini masih menyisakan banyak pekerjaan rumah. Daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih, sektor manufaktur bergerak lambat, dan investasi baru belum mengalir deras. Bahkan, tak sedikit industri padat karya yang tumbang akibat permintaan yang kian menyusut. Ledakan pekerja informal menjadi sinyal bahwa tekanan ekonomi di level akar rumput belum sepenuhnya reda.
Namun, Purbaya melihat celah. Dari sisi fiskal, kas pemerintah berada dalam posisi yang relatif kuat. Hingga akhir 2025, saldo kas pemerintah tercatat mencapai sekitar Rp399 triliun. Dana jumbo ini sebagian disimpan di Bank Indonesia dan disiapkan untuk mendanai belanja negara di awal 2026.
“Akhir tahun 2025 uang saya ada Rp390-an triliun. Sebagian di bank sentral karena siap-siap untuk pengeluaran Januari,” ungkapnya. Artinya, mesin belanja pemerintah sudah dipanaskan sejak awal tahun, sebagai bentuk strategi klasik untuk mendorong perputaran uang dan menggerakkan sektor riil lebih cepat.
Jika dana tersebut belum seluruhnya terserap, pemerintah siap menempatkannya kembali ke sistem perbankan. Langkah ini dinilai aman karena kondisi likuiditas perbankan nasional saat ini relatif terjaga. Sinkronisasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia menjadi kunci stabilitas tersebut.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 bisa menembus angka 6 persen.
“Dengan bantuan dan sinkronisasi kebijakan dengan bank sentral, perbankan sekarang cukup likuiditasnya,” kata Purbaya. Pesan ini sekaligus menegaskan bahwa pemerintah tak ingin kelebihan dana justru menjadi beban atau mengganggu stabilitas pasar uang.
Sebelumnya, Kementerian Keuangan juga telah menarik secara bertahap dana pemerintah sebesar Rp76 triliun dari total penempatan Rp276 triliun di perbankan. Penarikan ini bukan tanpa tujuan. Dana tersebut digunakan untuk memenuhi belanja rutin kementerian dan lembaga negara, belanja yang langsung bersentuhan dengan aktivitas ekonomi sehari-hari.
Dana yang ditempatkan di perbankan itu berasal dari pos dana menganggur pemerintah di BI, seperti Saldo Anggaran Lebih (SAL) dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA). Menurut Purbaya, mekanismenya sederhana namun berdampak langsung. Dana ditarik dari sistem, lalu segera dibelanjakan kembali.
“Jadi saya tarik seperti ditarik dari sistem, tapi langsung dibelanjain lagi. Uangnya langsung masuk ke sistem perekonomian,” jelasnya.
Di titik inilah optimisme pertumbuhan 6 persen mulai menemukan pijakannya. Ketika belanja negara dipercepat, likuiditas perbankan terjaga, dan kebijakan fiskal serta moneter berjalan seirama, roda ekonomi punya peluang untuk berputar lebih kencang. Tantangannya tinggal satu yakni memastikan dorongan fiskal itu benar-benar sampai ke sektor produktif dan masyarakat luas, bukan berhenti di atas kertas anggaran.
Jika kartu truf fiskal itu dimainkan tepat waktu, target 6 persen yang semula terdengar ambisius bisa berubah menjadi cerita realistis tentang ekonomi Indonesia yang kembali berlari lebih cepat.