KATAMEREKA – Pertunjukan Stand up comedy bertajuk “Mens Rea” milik komika Pandji Pragiwaksono menghebohkan publik. pasalnya, sebagian orang memandang ini sebagai manifestasi kebebasan berekspresi dalam sistem demokrasi melalui komedi. Komedi dijadikan sarana kritik politik yang efektif karena mampu menjangkau publik luas tanpa harus menggunakan bahasa akademik atau jargon politik yang kaku. kali ini Pandji memposisikan diri sebagai warga negara yang menggunakan ruang budaya untuk mempertanyakan niat, konsistensi, dan tanggung jawab aktor-aktor kekuasaan.
Secara politis, pertunjukan ini memperkuat fungsi kontrol sosial masyarakat sipil. Kritik yang disampaikan melalui humor dinilai mampu menurunkan ketegangan politik sekaligus mendorong partisipasi publik dalam diskursus kebangsaan. Dalam konteks ini, “Mens Rea” berkontribusi pada pendewasaan demokrasi dengan membuka ruang refleksi tanpa harus terjebak dalam polarisasi partisan. Pendukungnya juga melihat “Mens Rea” sebagai bentuk pendidikan politik alternatif. Materi yang disampaikan mengajak penonton untuk tidak sekadar menerima narasi dominan, melainkan berpikir kritis terhadap kebijakan dan praktik kekuasaan. Hal ini dianggap penting di tengah kecenderungan politik yang semakin populis dan emosional.
Sebaliknya, dari sudut pandang kontra, “Mens Rea” dinilai berpotensi menyederhanakan persoalan politik yang kompleks. Kritik yang dibungkus komedi dianggap rawan dipahami secara parsial dan emosional sehingga berisiko membentuk opini publik tanpa landasan data dan konteks yang memadai. Dalam politik, penyederhanaan semacam ini bisa memperkuat bias dan memperlemah diskursus rasional.
Sebagian pihak juga memandang bahwa posisi Pandji sebagai figur publik dengan basis penggemar besar menempatkannya sebagai aktor politik informal yang berpengaruh, namun tanpa mekanisme akuntabilitas sebagaimana pejabat publik atau analis kebijakan. Kritik yang disampaikan dapat dipersepsikan sebagai keberpihakan politik tertentu, meskipun diklaim sebagai ekspresi personal atau seni.
Pandji Pragiwaksono. foto: Ist
Dari perspektif stabilitas politik, ada pula kekhawatiran bahwa kritik tajam yang disampaikan di ruang hiburan dapat memperbesar sentimen anti institusi dan ketidakpercayaan terhadap negara. Jika tidak disertai dengan ajakan dialog dan solusi, komedi politik berisiko memperkuat sinisme publik alih-alih mendorong perubahan konstruktif.
Perdebatan seputar Mens Rea seharusnya tidak diarahkan pada upaya pembungkaman atau pelabelan, melainkan pada kualitas diskursus yang menyertainya. Kebebasan berekspresi bukan hanya hak untuk berbicara, tetapi juga kesiapan untuk menerima kritik balik dan membuka ruang dialog. Sebaliknya, penolakan terhadap sebuah karya tidak boleh berubah menjadi delegitimasi terhadap hak berekspresi itu sendiri.
Redaksi berpandangan bahwa demokrasi yang sehat membutuhkan ruang aman bagi perbedaan pendapat, termasuk yang disampaikan lewat komedi. Tantangannya adalah menjaga agar ruang tersebut tetap rasional, proporsional, dan bebas dari intimidasi. Mens Rea menjadi pengingat bahwa kebebasan dan tanggung jawab adalah dua sisi yang tidak terpisahkan dalam kehidupan berdemokrasi.