KATAMEREKA: Aceh, Bencana memang datang tanpa permisi, tapi bukan berarti semua yang terbawa arus bisa dianggap rezeki dadakan. Gelondongan kayu yang hanyut saat banjir bandang kini boleh dimanfaatkan warga, dengan satu catatan penting dipakai untuk bangkit, bukan untuk berdagang.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegaskan, kayu-kayu yang terbawa banjir dapat digunakan masyarakat untuk kebutuhan pemulihan pasca bencana. Mulai dari membangun kembali rumah yang rusak, membuat pagar, hingga jembatan darurat demi membuka akses warga yang terputus.
Saat berada di Banda Aceh, Sabtu (10/1/2026), Tito menyebut pemerintah pusat telah berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan dan sepakat memberikan ruang bagi warga untuk memanfaatkan kayu tersebut. Menurutnya, kebijakan ini penting agar masyarakat tidak terbebani biaya material di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Namun Tito juga menarik garis tegas agar kebijakan ini tidak disalahartikan. Ia menekankan, kayu bekas bencana sama sekali tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan komersial. Perusahaan atau pihak mana pun dilarang mengambil kayu tersebut untuk dijual kembali atau dijadikan ladang bisnis.
“Yang tidak boleh itu kayu diambil oleh perusahaan lalu dipakai untuk jualan. Itu tidak dibenarkan,” ujar Tito.
Ia menambahkan, TNI, Polri, dan instansi lain yang terlibat dalam rehabilitasi pascabencana juga diperbolehkan memanfaatkan kayu, selama penggunaannya benar-benar untuk membantu pemulihan warga dan bukan untuk keuntungan ekonomi.
“Sepanjang untuk kebutuhan rehabilitasi dan pemulihan bencana, tanpa komersial, semuanya boleh,” katanya.
Peringatan serupa sebelumnya juga disampaikan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman. Dalam keterangannya pada Senin (15/12/2025), Alex mengingatkan agar kayu gelondongan bekas bencana tidak diperlakukan seperti barang bebas ambil.
Menurut Alex, kayu yang hanyut akibat bencana bukan rezeki nomplok dan bukan pula milik pihak tertentu. Ia menegaskan, kayu tersebut seharusnya menjadi bagian dari upaya pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat terdampak, bukan justru dimanfaatkan oleh segelintir pihak untuk mencari keuntungan.
Alex menilai, jika pengawasan longgar, niat baik membantu warga bisa berubah menjadi praktik oportunistik yang mencederai rasa keadilan. Karena itu, ia mendorong pemerintah dan aparat terkait untuk memastikan kayu bekas bencana benar-benar sampai ke tangan warga yang membutuhkan.
Di tengah proses bangkit dari bencana, kayu-kayu yang semula menjadi saksi kehancuran diharapkan bisa berubah fungsi menjadi penyangga harapan. Asalkan satu hal dijaga bersama: kayu itu untuk memulihkan kehidupan, bukan untuk diperebutkan apalagi diperjualbelikan.