KATAMEREKA: Aceh Tamiang, Januari 2026, menjadi saksi perjalanan kemanusiaan yang tidak selesai hanya dengan satu kali distribusi bantuan.
Sejak hari-hari awal pasca banjir, Hamida Soetadji selaku Ketua U Save Children (USC) memimpin langsung langkah demi langkah respons kemanusiaan bersama Teman Andalan, ini adalah catatan aksi kemanusiannya.
Perjalanan ini tidak dimulai dari angka dan laporan, melainkan dari cerita warga yang perlahan terungkap di posko-posko pengungsian, tentang anak-anak yang kehilangan buku sekolahnya, tentang ibu-ibu yang bertahan tanpa perlengkapan sanitasi, dan tentang desa-desa yang luput dari sorotan karena akses yang sulit.

Pada fase awal aksi, tim USC lebih banyak bergerak dalam sunyi. Menyusuri titik-titik terdampak yang belum tersentuh bantuan, memetakan kebutuhan riil warga, dan memastikan bahwa intervensi yang dilakukan tidak sekadar simbolik. Dari dapur umum hingga distribusi darurat, fokus utama kala itu adalah memastikan warga bisa bertahan.
Memasuki hari-hari berikutnya, saat sebagian bantuan mulai berdatangan dari berbagai pihak, tantangan berubah. Bukan lagi soal ketersediaan logistik semata, melainkan pemerataan. Di sinilah Desa Kampung Landuh menjadi perhatian khusus.
Dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 3.200 jiwa, Kampung Landuh tidak bisa ditangani dengan skema distribusi biasa. Pada hari keenam aksi, Hamida memutuskan menambah volume bantuan secara signifikan. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Dari pemetaan lapangan, terlihat jelas bahwa kebutuhan warga masih jauh dari tercukupi, sementara sebagian wilayah lain mulai mendapatkan pasokan berlebih.
Tanggal 15 Januari 2026, tim bergerak lebih sistematis. Atas arahan Datok setempat, distribusi dipusatkan di Posko 2 untuk menghindari tumpang tindih penerima bantuan. Di titik inilah pendekatan pemberdayaan mulai benar-benar terasa.
Sebanyak 13 kader desa dilibatkan langsung. Mereka tidak hanya membantu proses pengepakan, tetapi juga menjadi penghubung antara tim dan warga. Nama-nama penerima diverifikasi, jalur distribusi diatur, dan ritme kerja dibangun bersama. Bagi Hamida, keterlibatan warga bukan sekadar efisiensi teknis, tetapi bagian dari pemulihan martabat komunitas pascabencana.
Di salah satu rumah warga yang lumpurnya mulai dibersihkan, suasana berbeda tercipta. Anak-anak berkumpul, bukan untuk antre bantuan, tetapi untuk bermain. Mainan sederhana dan alat tulis dibagikan. Tawa kecil terdengar, sebuah jeda singkat dari trauma yang belum sepenuhnya pergi. Trauma healing tidak selalu harus berupa sesi formal, kadang ia hadir lewat kesempatan anak-anak untuk kembali merasa menjadi anak-anak.

Hingga pertengahan Januari, anak-anak di wilayah ini masih bersekolah di tenda darurat. Gedung sekolah belum sepenuhnya bisa digunakan. Lumpur, air, dan kerusakan struktural masih menjadi hambatan. Karena itu, paket alat tulis menjadi bagian penting dari distribusi, bukan sekadar pelengkap.
Secara keseluruhan, hingga pertengahan Januari 2026, USC bersama TemanAndalan.com telah menyalurkan sekitar 2.200 paket bantuan di Aceh Tamiang. Isinya beragam, mulai dari makanan siap santap, pakaian dalam, perlengkapan kebersihan, hingga mainan dan alat tulis yang disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan yang terus berubah.
Di balik distribusi itu, terdapat pengelolaan logistik dan keuangan yang berjalan paralel. Setiap tahap dicatat, setiap pengeluaran dirinci. Transparansi menjadi prinsip yang dijaga, karena kepercayaan donatur sama pentingnya dengan kecepatan bantuan itu sendiri. Total dana yang terpakai hingga 15 Januari mencapai lebih dari 31 juta rupiah, angka yang merepresentasikan ribuan interaksi kecil di lapangan. Namun bagi Hamida, pekerjaan belum selesai.
Setelah Aceh Tamiang, rute kemanusiaan berlanjut. Banda Aceh menjadi titik koordinasi berikutnya, mempertemukan USC dengan komunitas Offroad 4×4 untuk menjangkau wilayah-wilayah yang lebih sulit diakses. Dari sana, perjalanan direncanakan menuju Takengon, dengan target penyaluran ratusan paket khusus untuk siswa-siswi terdampak.
Banjir mungkin hanya peristiwa beberapa hari, tetapi pemulihan adalah perjalanan panjang. Dan di sepanjang jalan berlumpur Aceh Tamiang itu, Hamida Soetadji memastikan satu hal, bahwa bantuan tidak datang sebagai belas kasihan sesaat, melainkan sebagai komitmen untuk berjalan bersama mereka yang terdampak, sampai kehidupan benar-benar pulih kembali. Sampai jumpa di Takengon.