KATAMEREKA – Jagat media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh narasi mengenai ancaman kondisi darurat selama tujuh hari di Indonesia. Dalam narasi tersebut, diprediksi akan terjadi pemadaman listrik total, putusnya akses internet, hingga kelangkaan air bersih. Isu ini mencuat setelah pernyataan mantan petinggi Polri, Dharma Pongrekun, viral di berbagai platform digital.
Dalam tayangan eksklusif “10 Minutes” di kanal YouTube Okezone, Dharma Pongrekun memaparkan analisisnya mengenai skenario yang ia sebut sebagai “himbauan kewaspadaan” bagi masyarakat Indonesia.
Dharma merincikan secara sistematis apa yang kemungkinan terjadi jika masa darurat tujuh hari tersebut benar-benar berlangsung. diantaranya, Fase Awal terjadinya pemadaman listrik secara luas yang berimbas pada matinya jaringan seluler dan internet. Hal ini akan melumpuhkan sektor keuangan seperti ATM dan layanan e-wallet. Fase Menengah tangguan pada jalur logistik mulai terasa. Pasokan air bersih dan sanitasi menjadi masalah serius, sementara rumah sakit akan beroperasi dalam mode darurat. Fase Puncak tekanan sosial di tengah masyarakat diprediksi meningkat drastis. Keamanan dan komunikasi menjadi prioritas utama yang sangat rentan pada tahap ini.
Bukan sekadar masalah teknis, Dharma menilai fenomena ini berkaitan erat dengan agenda besar dunia, seperti Great Reset dan Sustainable Development Goals (SDGs). Menurutnya, dunia sedang digiring menuju sistem digitalisasi total yang menciptakan ketergantungan penuh terhadap sistem tertentu.
Dharma Pongrekun talkshow di okezone.(foto/yt okezone)
“Saya menyampaikan ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan karena rasa sayang kepada rakyat agar tidak ‘mati akal’ saat situasi itu terjadi,” ujar Dharma.
Ia juga mengkritik sistem saat ini yang dinilainya membuat masyarakat terlalu bergantung pada kenyamanan digital sehingga kehilangan kemandirian.
Berdasarkan data dari Drone Emprit, isu “Peringatan Darurat 7 Hari” ini awalnya meledak secara organik di TikTok sebelum merambah ke Twitter dan YouTube. Menariknya, respons publik terbelah cukup tajam. Sebanyak 37,6% netizen cenderung memercayai informasi ini sebagai bentuk antisipasi, sementara 57,8% lainnya bersikap skeptis atau ragu karena belum adanya pernyataan resmi dari pemerintah.
Dharma sendiri mengimbau masyarakat agar tidak perlu menunggu konfirmasi resmi untuk mulai waspada. Ia berkaca pada kejadian pemadaman listrik besar (blackout) di wilayah Sumatera dan Jabodetabek beberapa tahun silam yang terjadi secara tiba-tiba tanpa persiapan masyarakat yang matang.
Sebagai langkah mitigasi, masyarakat disarankan untuk mulai memikirkan cara hidup mandiri dan tidak bergantung sepenuhnya pada infrastruktur digital. Pihak berwenang diharapkan dapat segera memberikan klarifikasi atau informasi yang lebih transparan guna meredam spekulasi yang berkembang luas di masyarakat.