KATAMEREKA – Sebuah peristiwa memilukan terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana seorang siswa Sekolah Dasar (SD) dilaporkan mengakhiri hidupnya karena himpitan ekonomi. Alasan di balik tindakan nekat tersebut sangat mendasar, sang anak tidak mampu membeli buku tulis dan pena untuk keperluan sekolahnya. Polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan bocah berusia 10 tahun itu.
surat yang ditulis YBS yang ditemukan Polisi di TKP. (dok.Ist)
Surat itu ditulis bocah kelas IV SD dalam bahasa daerah Bajawa. Satu baris surat itu berisi ungkapan kekecewaan korban dan juga pesan perpisahan kepada ibunya.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa masih ada anak yang menghadapi pendidikan dengan beban ekonomi yang seharusnya tidak ia tanggung sendiri. Kritik tajam muncul terhadap sistem pendidikan di Indonesia setelah tragedi ini. Masalah alat tulis yang dianggap sepele oleh sebagian orang, nyatanya menjadi syarat utama bagi seorang anak untuk bisa belajar di sekolah. Kejadian ini dinilai sebagai bukti bahwa negara belum sepenuhnya menjamin kebutuhan belajar paling dasar bagi setiap warga negaranya.
Di saat kebutuhan dasar seperti buku tulis masih menjadi masalah, pemerintah justru memilih mengalokasikan anggaran besar untuk program lain, seperti Makan Bergizi Gratis.
Kebijakan alokasi anggaran pendidikan ini memicu pertanyaan mendasar mengenai arah prioritas negara dalam sektor pendidikan. Jika negara memiliki ruang fiskal untuk menjalankan program berskala nasional, publik mempertanyakan mengapa pemenuhan alat belajar dasar masih harus bergantung pada kemampuan ekonomi keluarga.
Tragedi ini juga mendapat respon dari Menteri Sosial Ri Saifullah Yusuf, yang akhir-akhir ini ia menunjukan keberhasilan awal dalam menjalankan salah satu program unggulan pemerintah di bidang pendidikan, yakni sekolah rakyat. Sebuah sistem pendidikan berasrama gratis (SD-SMA) dilengkapi fasilitas modern, makan, serta kebutuhan hidup lainnya bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Mensos menyampaikan duka cita terkait meninggalnya YBS, anak berusia 10 tahun, yang diduga bunuh diri karena tidak mampu membeli buku dan pena. Pria yang akrab disapa Gus Ipul ini meminta agar kejadian ini menjadi atensi bersama, termasuk pemerintah daerah.
“Tentu kita prihatin dulu ya, turut berduka. Yang kedua, ya tentu ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama, ya tentu bersama pemerintah daerah,” ujar Gus Ipul di Kompleks Istana, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Gus Ipul meminta agar pemerintah pusat dan daerah memperkuat pendampingan bagi keluarga yang membutuhkan agar kejadian serupa tak terulang.
“Kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita, ya kita harapkan tidak ada yang tidak terdata,” tegasnya.