KATAMEREKA,Surabaya – Siapa sangka, dari balik deretan rumah di kawasan perumahan Surabaya, lahir karya seni yang mampu melintasi batas samudera? Kampung Batik Okra, sebuah oase kreativitas lokal, baru saja membuktikan bahwa kualitas jempolan tidak butuh panggung mewah untuk menarik perhatian dunia.
Potensi luar biasa ini tertangkap langsung oleh radar Novita Hardini, anggota Komisi VII DPR RI. Saat berkunjung ke sana, ia tidak sekedar melihat kain, ia melihat masa depan ekonomi kerakyatan yang cerah.
Batik Okra bukan sekadar corak. Ia adalah simbol kemandirian warga. Produk mereka kini telah menembus pasar internasional, mulai dari Jepang, Australia, hingga Belanda. Prestasi ini membuat Novita terkesan dengan ketekunan para perajin yang mayoritas adalah ibu-ibu tangguh.
Namun, di balik kesuksesan tersebut, ada tantangan besar yakni Infrastruktur dan permodalan. Novita Hardini menyadari bahwa untuk naik kelas, semangat warga saja tidak cukup. Dibutuhkan intervensi konkret dari pemerintah daerah dan pusat agar skala produksi dan pemasaran bisa melesat lebih jauh.
“Potensi ekspornya sudah ada, pasarnya sudah jelas di luar negeri. Ini yang harus kita dukung melalui kebijakan di pusat agar Kampung Batik Okra bisa menjadi role model bagi UMKM lain di Jawa Timur,” ujar Novita.

Novita Hardini di Kampung Batik Okra. (foto/ist)
Disela kunjungan ini, Politisi muda PDIP ini berkomitmen untuk membawa aspirasi rakyat ke Senayan, memastikan bahwa kreativitas dari gang-gang Surabaya mendapatkan karpet merah di kancah global.
“Saya melihat kemandirian ekonomi yang luar biasa di sini. Tugas kita adalah mempermudah akses mereka, baik dari sisi pelatihan maupun permodalan, agar produk mereka semakin kompetitif,” tambahnya.
Harapannya, dengan dukungan yang tepat nantinya Kampung Batik Okra diprediksi akan menjadi motor penggerak ekonomi yang tidak hanya memberdayakan perempuan, tetapi juga melestarikan identitas budaya bangsa melalui setiap goresan cantingnya.