Emas Antam Naik Lagi Hari Ini, Apa yang Sedang Terjadi di Pasar Global?

Oleh Didit

KATAMEREKA, Surabaya – Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) di wilayah Surabaya kembali menanjak. Pada Senin (23/2/2026), harga emas Antam tercatat berada di level Rp 3.028.000 per gram, naik Rp 16.000 dibandingkan sehari sebelumnya yang berada di angka Rp 3.012.000 per gram.

Kenaikan ini memang terlihat sederhana dalam hitungan nominal. Namun bagi pelaku pasar, pergerakan tersebut bukan sekadar angka. Ia menjadi sinyal bahwa tren penguatan emas masih berlanjut.

Sepanjang awal 2026, harga emas tercatat bergerak konsisten naik. Bahkan secara akumulatif, kenaikannya diperkirakan sudah mencapai kisaran 18–21 persen dan sempat menyentuh rekor tertinggi pada akhir Januari lalu. Artinya, penguatan kali ini bukanlah lonjakan sesaat, melainkan bagian dari gelombang tren yang lebih besar.

Lalu, apa yang sebenarnya mendorong harga emas terus menguat?

Dalam situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, emas kembali memainkan perannya sebagai safe haven atau aset pelindung nilai. Ketika pasar saham bergejolak dan tensi geopolitik meningkat, investor cenderung mencari instrumen yang lebih stabil. Emas menjadi pilihan klasik yang selalu relevan.

Permintaan yang meningkat secara global ini otomatis mendorong harga naik, termasuk di Indonesia.

Tak bisa dipungkiri, harga emas domestik sangat dipengaruhi oleh harga internasional. Saat ini pun, harga emas dunia berada di level tinggi, sekitar US$ 5.098 per troy ounce pada 23 Februari 2026. Kenaikan ini menjadi salah satu motor utama yang mengerek harga emas Antam di dalam negeri.

Harga Emas aantam Hari Ini

Ketika harga global naik, harga di pasar lokal pun ikut menyesuaikan.

Selain itu, arah kebijakan moneter global juga berperan penting. Pergerakan emas sering kali berlawanan arah dengan dolar AS. Ketika dolar melemah atau suku bunga diperkirakan tidak naik agresif, emas menjadi lebih menarik karena dianggap lebih aman untuk menyimpan nilai kekayaan.

Sebaliknya, jika suku bunga tinggi, emas biasanya kurang diminati karena tidak memberikan imbal hasil seperti deposito atau obligasi. Namun dalam kondisi saat ini, ekspektasi kebijakan yang lebih longgar justru membuat emas kembali bersinar.

Aktivitas pasar di kawasan Asia juga turut memberi dorongan. Negara-negara seperti China dan beberapa kawasan ASEAN dikenal sebagai konsumen emas fisik terbesar, baik untuk investasi maupun perhiasan. Ketika permintaan fisik meningkat, harga global pun terdorong naik dan berdampak hingga ke pasar domestik.

Bagi investor ritel, kenaikan harga emas tentu mengundang dua reaksi: antusias sekaligus waspada.

Emas tetap menjadi instrumen yang kuat untuk menjaga nilai aset dalam jangka panjang, terutama di tengah ancaman inflasi dan ketidakpastian global. Namun, membeli saat harga sedang naik juga perlu pertimbangan matang agar tidak terjebak keputusan emosional.

Prinsip dasarnya tetap sama yakni emas cocok untuk strategi jangka panjang dan diversifikasi portofolio. Bukan untuk spekulasi jangka pendek semata.

Di tengah dinamika ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil, emas kembali menunjukkan karakternya sebagai penjaga nilai. Dan selama ketidakpastian masih membayangi pasar, logam mulia ini tampaknya masih akan tetap bersinar.

Anda mungkin juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda, menampilkan konten yang relevan, serta menganalisis lalu lintas situs. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie sesuai dengan kebijakan privasi kami. Accept Read More