KATAMEREKA, Lumajang – Insiden memilukan menimpa seorang ayah dan anaknya yang terseret derasnya banjir lahar Gunung Semeru di aliran Sungai Regoyo, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, Lumajang, Senin 23/2/2026. Peristiwa ini terjadi saat keduanya nekat menerjang aliran lahar demi mencapai sekolah.
Kejadian bermula ketika sang ayah membonceng anaknya menggunakan sepeda motor menuju SD Negeri 03 Jugosari. Setibanya di jalur aliran lahar, mereka memutuskan untuk tetap melintas meski kondisi arus air sedang kuat. Namun, di tengah sungai, motor yang mereka kendarai tergelincir tumpukan pasir dan batu hingga membuat keduanya terjatuh dan terseret arus sejauh kurang lebih 5 meter.
”Biasanya memang dilihat-lihat dulu, tapi tadi kok langsung nyelonong. Tadi sempat terseret 5 meter lebih, alhamdulillah cuma lecet-lecet saja karena langsung ditolong warga,” ungkap Rohim, salah seorang saksi mata di lokasi kejadian.
Meski berhasil selamat dari maut dengan luka lecet akibat material batu dan kerikil, sang anak dipastikan tidak bisa mengikuti pelajaran hari ini. Seluruh peralatan sekolah, termasuk tas dan buku-buku miliknya, basah kuyup dan sebagian hanyut terbawa arus. Isak tangis dan trauma menyelimuti wajah sang anak yang harus kehilangan sarana belajarnya dalam sekejap.

Seorang siswi SD bersama Ayahnya terseret lahar dingin Gunung Semeru saat berangkat ke sekolah. (Foto/ist)
Penderitaan ini merupakan potret nyata warga Dusun Sumberlangsep yang terisolasi sejak jembatan utama putus akibat erupsi beberapa tahun lalu. Tanpa pilihan lain, jalur lahar Sungai Regoyo menjadi satu-satunya akses yang harus warga lalui setiap hari dengan risiko nyawa sebagai taruhannya.
Guna mencegah tragedi serupa, pemerintah daerah diharapkan segera mempercepat pembangunan infrastruktur jembatan permanen yang aman dari terjangan material erupsi. Sebagai langkah jangka pendek, penyediaan transportasi sekolah khusus yang aman serta penempatan petugas pemantau debit air di titik penyeberangan saat jam berangkat sekolah menjadi solusi mendesak agar hak pendidikan anak-anak di kaki Gunung Semeru tidak lagi harus dibayar dengan ancaman keselamatan jiwa.