Penerbangan Timur Tengah Terganggu, 14.115 Jemaah Umrah RI Terancam Terlambat Pulang

Oleh Didit

Ilustrasi jamaah Umroh

KATAMEREKA: Jakarta, Gangguan penerbangan internasional di kawasan Timur Tengah membuat sebagian jemaah umrah asal Indonesia berpotensi mengalami keterlambatan kepulangan. Pemerintah pun bergerak cepat memastikan para jemaah tetap mendapatkan perlindungan, pelayanan, serta kepastian administrasi selama menunggu jadwal penerbangan kembali ke Tanah Air.

Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia mencatat sedikitnya 14.115 jemaah umrah Indonesia berpotensi tertahan akibat gangguan operasional penerbangan internasional di kawasan tersebut. Situasi ini menjadi perhatian serius pemerintah mengingat tingginya jumlah warga Indonesia yang sedang menjalankan ibadah di Tanah Suci.

Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf mengungkapkan, berdasarkan data per 11 Maret 2026, masih terdapat 50.374 jemaah umrah Indonesia yang berada di Arab Saudi. Angka tersebut sebenarnya telah mengalami penurunan dibandingkan catatan pada 28 Februari 2026 yang mencapai 58.873 jemaah.

rapat kerja bersama Komisi VIII DPR RI, Irfan menjelaskan bahwa tidak semua jemaah terdampak keterlambatan kepulangan. Sebagian jemaah masih dapat kembali ke Indonesia melalui penerbangan langsung dari Jeddah maupun Madinah yang hingga kini tetap beroperasi.

Sejumlah maskapai seperti Garuda Indonesia, Saudia, Lion Air, dan AirAsia masih melayani penerbangan dari Arab Saudi menuju Indonesia. Selain itu, sebagian jemaah memang belum dijadwalkan pulang karena masih menjalankan rangkaian ibadah umrah di Tanah Suci.

Pemerintah sejak 28 Februari 2026 telah mengimbau para Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) serta calon jemaah untuk sementara menunda keberangkatan hingga situasi penerbangan kembali kondusif. Imbauan ini juga merujuk pada rekomendasi dari Kementerian Luar Negeri RI yang terus memantau perkembangan kondisi keamanan di kawasan Timur Tengah.

Menurut Irfan, keselamatan dan kenyamanan jemaah menjadi pertimbangan utama dalam setiap kebijakan yang diambil pemerintah. Oleh karena itu, koordinasi intensif dilakukan dengan berbagai pihak agar jemaah tetap mendapatkan perlindungan selama berada di Arab Saudi.

Sebagai bentuk pelayanan langsung di lapangan, pemerintah melalui Kantor Urusan Haji Jeddah bersama KJRI Jeddah menurunkan tim khusus yang disiagakan di empat terminal bandara di Jeddah dan Madinah. Tim ini bertugas berkoordinasi dengan maskapai penerbangan untuk memastikan kepastian jadwal keberangkatan, sekaligus membantu jemaah yang menunggu penerbangan dengan menyediakan konsumsi serta kebutuhan dasar lainnya.

Pemantauan dilakukan secara bergiliran selama 24 jam untuk mengantisipasi potensi penumpukan jemaah di bandara. Selain itu, pemerintah juga membantu proses perpanjangan visa bagi jemaah yang masa berlakunya habis akibat keterlambatan penerbangan, sehingga mereka tidak tercatat melakukan pelanggaran imigrasi.

Di tengah situasi tersebut, proses pemulangan jemaah tetap berlangsung secara bertahap. Hingga 9 Maret 2026, tercatat sebanyak 20.581 jemaah umrah Indonesia telah berhasil dipulangkan ke Tanah Air.

Sementara itu, keberangkatan jemaah umrah dari Indonesia masih berjalan melalui penerbangan langsung menuju Arab Saudi dengan jumlah sekitar 2.000 hingga 3.000 jemaah setiap hari. Pemerintah memastikan pemantauan terus dilakukan secara intensif serta koordinasi dengan maskapai, otoritas bandara, dan penyelenggara perjalanan ibadah umrah tetap diperkuat agar para jemaah Indonesia dapat menjalankan ibadah dengan aman dan kembali ke Tanah Air dengan selamat.

Anda mungkin juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda, menampilkan konten yang relevan, serta menganalisis lalu lintas situs. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie sesuai dengan kebijakan privasi kami. Accept Read More