Puasa Tak Buat Para Pemain Bintang Ini “Meredup”

Beberapa Liga Memberikan Kelonggaran di Bulan Ramadhan Untuk Para Pemain Muslim

Oleh Agung Laksono

William Saliba, Salah Satu Pemain Yang Berpuasa di Tahun Ini

Kata Mereka – Bulan Ramadan 1447 Hijriah yang jatuh pada Februari–Maret 2026 kembali diwarnai komitmen para pesepak bola Muslim dunia yang tetap menjalankan ibadah puasa di tengah padatnya jadwal kompetisi Eropa.

Di ajang Premier League, sejumlah nama besar tetap tampil kompetitif meski harus menjaga kondisi fisik tanpa asupan makanan dan minuman sejak fajar hingga matahari terbenam. Bintang Liverpool, Mohamed Salah, kembali menjadi sorotan. Pemain asal Mesir itu dikenal konsisten menjalankan puasa sambil tetap menjadi andalan di lini depan.

Bek andalan Arsenal, William Saliba, juga termasuk pemain yang tetap berpuasa selama Ramadan tahun ini. Sementara di kubu Manchester United, winger muda Amad Diallo menjalani ibadah yang sama di tengah persaingan ketat papan atas liga.

Tak hanya di Inggris, kompetisi La Liga juga menghadirkan cerita serupa. Wonderkid FC Barcelona, Lamine Yamal, menjalani Ramadan pertamanya sebagai pemain utama Blaugrana. Dengan dukungan tim nutrisi klub, ia tetap mampu menjaga performa dalam laga-laga penting perebutan gelar.

Fenomena ini bukan hal baru di sepak bola modern. Banyak klub elite Eropa kini memiliki tim medis dan ahli gizi yang menyesuaikan program latihan bagi pemain Muslim. Jadwal makan sahur, pengaturan cairan, hingga pola pemulihan menjadi perhatian khusus agar stamina tetap stabil selama 90 menit pertandingan.

Beberapa pertandingan bahkan memberi toleransi berupa jeda singkat saat waktu berbuka tiba, terutama di kompetisi Inggris dan Prancis, sebagai bentuk penghormatan terhadap pemain yang menjalankan ibadah.

Puasa di tengah kompetisi level tertinggi tentu bukan tantangan ringan. Intensitas pertandingan, tekanan publik, serta tuntutan fisik yang tinggi membuat manajemen energi menjadi kunci utama. Namun para pemain ini membuktikan bahwa profesionalisme dan keyakinan bisa berjalan beriringan.

Ramadan 2026 pun kembali menjadi bukti bahwa sepak bola bukan sekadar soal persaingan di lapangan, tetapi juga tentang keberagaman dan saling menghormati di panggung olahraga dunia.

Anda mungkin juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda, menampilkan konten yang relevan, serta menganalisis lalu lintas situs. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie sesuai dengan kebijakan privasi kami. Accept Read More