KATAMEREKA: SURABAYA, Guys, arek Suroboyo mana nih yang nggak kenal sama brand sablon Rock in Planet? Nah, di balik kaos-kaos keren yang sering seliweran di tongkrongan dan acara-acara musik itu, ada sosok founder kece bernama Tiar Rakasiwi. Baru-baru ini, Tiar cerita blak-blakan di podcast KATAMEREKA.CO.ID tentang perjalanan usahanya yang udah menginjak usia 10 tahun, Gokil kan?
Bayangin aja, guys, Tiar udah ngerintis Rock in Planet dari tahun 2015, dan yang lebih keren lagi, dia nggak sendirian, Doi ngajakin anak-anak yang baru lulus SMA buat bareng-bareng bangun mimpi. Ini nih yang namanya ekonomi kreatif dari akar rumput. Mereka nggak cuma jualan kaos, tapi juga ngasih kesempatan buat anak muda buat berkarya dan punya penghasilan. Salut captain.

“Awalnya ya gitu deh, namanya juga anak muda, semangatnya gede tapi modal pas-pasan,” cerita Tiar di podcast. “Tapi kita punya networking yang kuat dan selalu mikirin inovasi biar nggak ketinggalan zaman,” cerita Tiar.
Nah, kunci suksesnya Tiar ini ternyata nggak jauh-jauh dari pemanfaatan teknologi dan media sosial. Di era digital kayak sekarang, online presence itu wajib hukumnya. Tiar pinter banget ngebangun brand awareness Rock in Planet lewat platform-platform digital, ngejangkau pasar yang lebih luas, dan pastinya, bikin anak muda makin kepincut sama desain-desainnya yang fresh.

“Sosmed itu kayak ‘etalase’ kita yang buka 24 jam. Kita bisa pamerin karya, interaksi sama pelanggan, dan dapetin ide-ide baru,” ungkap cowok kelahiran Surabaya ini.
Nggak cuma Rock in Planet aja lho usahanya Tiar sekarang. Doi udah punya 5 lini bisnis sablon yang saling melengkapi, mulai dari Sablon Satuan Suroboyo, Kaos Promosi Surabaya, sampai Sablon Satuan Jawa Timur. Ini bukti nyata kalau kegigihan dan kemampuan adaptasi itu penting banget buat ngembangin UMKM.
Tapi, perjalanan 10 tahun nggak selalu mulus, guys. Tiar juga cerita pengalaman pahitnya waktu pandemi COVID-19 melanda. Usahanya yang berlokasi di Jl. Banyu Urip Lor IX No.93 B sempat kena tutup Satpol PP. Wah, saat itu Tiar dan timnya hampir aja nyerah dan mau banting setir jualan sembako, tepatnya beras! Kebayang kan gimana down dan kelimpungannya?

“Waktu itu bener-bener gelap. Tempat usaha ditutup, orderan sepi. Sempet kepikiran buat jualan beras biar dapur tetep ngebul,” kenang Tiar.
Nggak cuma itu aja, Tiar juga pernah hampir boncos 100 juta rupiah gara-gara salah satu kliennya nggak bayar. Nominal yang nggak sedikit buat pengusaha UMKM. Tapi, lagi-lagi, mental baja dan dukungan tim yang solid jadi penyelamatnya.
“Untungnya kita punya tim yang solid banget. Kita saling support, cari solusi bareng-bareng, dan akhirnya bisa ngelewatin masa-masa sulit itu,” ujarnya dengan nada lega. “Rahasia usaha kita bisa bertahan 10 tahun ya karena tim yang kuat ini.”
Nah, buat kalian para eksekutif muda yang punya jiwa entrepreneur, cerita Tiar ini bisa jadi inspirasi banget nih. Di tengah persaingan bisnis yang ketat, kreativitas, pemanfaatan teknologi, dan tim yang solid itu jadi kunci utama buat bertahan dan berkembang. Apalagi di sektor ekonomi kreatif dan UMKM yang punya potensi besar di Indonesia.
Penasaran kan gimana serunya obrolan Tiar dan Rizal di podcast KATAMEREKA.CO.ID? Langsung aja dengerin cerita lengkapnya di sana. Dijamin, banyak insight menarik yang bisa kalian dapetin buat mengembangkan bisnis atau bahkan memulai usaha baru.